Kerja Keras

Bertahun-tahun hidup, dijejali dengan teori atau lebih tepatnya himbauan dan penekanan bahwa resep sukses yang utama adalah kerja keras. Di banyak cerita rakyat, legenda, anjuran motivator dan kisah inspiratif bisa kita temukan kisah  yang menceritakan orang yang dulunya bukan apa-apa akhirnya berhasil karena kerja keras. Dulu, saya percaya itu hanya sebagai sebuah himbauan, seperti saya percaya dengan kalimat “Rajin pangkal pandai” atau “Hemat pangkal kaya”. Saya menggunakan kata ‘hanya’ karena saya percaya itu adalah hal yang benar, tetapi saya tidak menggunakannya sebagai pegangan hidup, alasannya mudah, karena saya melihat kenyataan bahwa ada beberapa orang yang dari tidak terlihat kerja kerasnya (setidaknya dari sudut pandang saya) namun ada sukses yang dapat mereka petik pula. Ini yang menyebabkan saya mempercayai pernyataan “kerja keras tidak akan mengkhianati hasil” hanya sebagai sebuah teori, karena saya pun melihat kenyataan bahwa ada orang yang bekerja dengan keras tapi hasil pun berkhianat kepadanya (dalam konteks, hasil tidak sebagus yang diinginkan atau bahkan harus menerima kegagalan). Sampai saya kuliah, saya paham bekerja keras adalah kunci sukses, namun yang saya lakukan adalah bekerja sekedarnya.

Saya menempuh pendidikan di sebuah kampus dengan keilmuan  yang didominasi ilmu sains dan teknologi. Penekanan yang banyak saya dapatkan adalah konsep kerja cerdas. Peningkatan efisiensi, penggunaan sumber daya dan energi yang minimum untuk mendapatkan hasil yang optimum. Apabila sumber daya tidak dapat dibuat minimum, rekayasa atau inovasi lain dapat dilakukan demi mendapatkan hasil terbaik. Efisiensi dan kerja cerdas, adalah hal yang ditanamkan di seluruh urat nadi saya sebagai mahasiswa.

Ternyata, butuh waktu untuk sadar bahwa mengapa saya bekerja sekedarnya lebih karena saya tidak punya tujuan. Tujuan yang mengharuskan saya untuk bekerja keras. Ditambah dengan kenyataan bahwa saya bersikap perhitungan. Takut mengeluarkan energi terlalu banyak dengan bekerja keras dan mendapatkan hasil yang tidak seimbang, takut kecewa. Saya pun jumawa, merasa bahwa saya bisa memilih harus diletakkan dimana investasi kerja keras saya, tanpa sadar bahwa segala hal yang terjadi di hidup ini adalah ‘pasar investasi’ dimana apapun hasilnya merupakan kombinasi akan berbagai hal yang parameternya sangat banyak dan yang harus kita lakukan sebagai manusia adalah melakukan porsi lingkaran kita.

Hidup saya berubah ketika saya mulai bekerja. Saya mendapatkan pekerjaan di bidang yang saya inginkan,  dimana saya ingin menjadi yang terbaik di bidang saya, dimana saya mengukur nilai hasil bukan hanya dengan parameter uang. Di titik ini, saya paham bahwa, yang namanya kerja, itu harus keras. Kalau tidak keras, ya bukan kerja. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, saya bekerja lebih keras dan lebih giat dari standar yang harus saya lakukan tanpa ada satu orang pun yang perlu memerintahkannya kepada saya. Tanpa ada satu orang pun yang harus mengingatkan saya.

Jadi, untukmu yang belum paham dan menemukan alasan untuk bekerja keras. Temukanlah tujuanmu. Tentukanlah tujuanmu. Entah itu untuk jadi yang terbaik, untuk pulang dan memberikan hasil kerjamu pada keluargamu, atau ingin memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk khalayak ramai.  Dan bila kau sampai pada titik dimana hasil kerja kerasmu tidak terlihat, ingatlah bahwa kerja keras memang kadang mengkhianati kita, tapi Tuhan tidak pernah mengkhianati kita, baik di saat tinggi ataupun rendah, kembalilah kepada-Nya.

Terima kasih pembaca, sampai bertemu di tulisan selanjutnya

Ley

Sleyoley the Returns – Manila!

Tags

, , , , , ,

Halo semuanya! Akhirnya kembali setelah kurang lebih 3,5 tahun tidak mengeluarkan tulisan di blog ini. Salah satu resolusi tahun ini (iya, saya paham betul ini sudah hampir 6 bulan berlalu dari awal tahun ini) adalah kembali untuk secara rutin mengeluarkan tulisan di blog. Terima kasih untuk kedua sahabat saya Septia Herdiani dan Balgis Alkaff yang pada akhirnya sekitar 2 bulan yang lalu mengajak saya untuk mengikuti tantangan mengeluarkan 30 tulisan (idealnya selama 1 bulan, setiap hari nya satu, tapi mari kita realistis….atau pesimis he he he).

Oke! Sebagai permulaan kembalinya saya ke dunia blogging, di postingan pertama saya tahun ini saya akan berbagi mengenai perjalanan pertama saya ke Manila sekitar 3 bulan yang lalu (tulisan ringan saja ya). Saya ditugaskan kantor untuk pergi ke Manila untuk belajar lebih dalam tentang proses disana untuk diterapkan di Indonesia. Saya hanya berada di Manila selama 6 hari (12-17 Maret 2017), mendarat di Manila minggu sore dan kembali ke Jakarta Jumat siang. Pesawat yang saya gunakan saat itu adalah Singapore Airlines, dan ini juga merupakan pengalaman pertama saya menaiki pesawat yang konon katanya salah satu pesawat yang menyediakan pelayanan terbaik diantara seluruh maskapai dunia. Setelah tiket keberangkatan saya di konfirmasi oleh pihak Singapore Airlines, saya memutuskan untuk mendaftar sebagai anggota Frequent Flyer dari Singapore Airlines atau lebih dikenal dengan keanggotaan KrisFlyer. Sehari sebelum keberangkatan, saya melakukan check in online dan memasukkan nomor keanggotaan saya (yang telah didapatkan sebelumnya melalui pendaftaran online yang tidak dipungut biaya, untuk kartu keanggotaan sendiri akan otomatis dicetak dan dikirimkan ke anggota setelah melakukan penerbangan perdana dengan Singapore Airlines). Untuk penerbangan Jakarta-Singapura, berhubung ini merupakan penerbangan dengan durasi yang singkat, saya memilih duduk di dekat jendela, tetapi untuk Singapura-Manila (kurang lebih 3,5 jam), saya memilih tempat duduk yang dekat koridor agar lebih mudah apabila sewaktu-waktu harus ke kamar mandi.

20170312_065800-1

Gambar 1. Boarding pass saya

Di hari keberangkatan saya, seperti prosedur pada umumnya, walaupun sudah check in online karena saya memiliki barang yang harus diletakkan di bagasi, saya tetap harus mengunjungi counter check in di Bandara dan setelah proses verifikasi penumpang dan administrasi bagasi selesai, saya menunggu panggilan boarding sembari sarapan di Citibank lounge bandara. Proses boarding sendiri tepat waktu (sangat tepat waktu malahan) dan pesawat berangkat sedikit lebih cepat dari jadwal. Untuk penerbangan Jakarta-Singapura sendiri penumpang akan mendapatkan makanan (makanan berat, bukan hanya snack) yang menurut saya rasanya sangat enak (setidaknya menurut selera saya). Saya mendarat di Singapura dan langsung mengejar pesawat berikutnya yang bertujuan ke Manila.

Pesawat berikutnya ke Manila juga sangat tepat waktu dan saya mendarat di Manila lebih cepat dari prediksi dan ini yang paling membuat saya terpukau ; setelah saya mendarat dan sampai di terminal kedatangan, hanya butuh sekitar 15 menit saja untuk saya menemukan bagasi saya di conveyor belt Singapore Airlines, padahal saya hanya penumpang kelas ekonomi. Saya benar-benar kagum karena ketepatan waktu maskapai ini luar biasa, dan segala sesuatunya sangat teratur (mengingat apa yang saya alami dengan banyak maskapai lokal Indonesia). Untuk keberangkatan dari bandara Ninoy Aquino ke hotel saya telah lebih dahulu memesan mobil dari hotel yang akan saya tinggali (sebenarnya saya juga bisa menggunakan taksi, tapi berdasarkan pencarian informasi di search engine konon katanya supir taksi di Manila tidak terlalu ramah pada turis dan banyak juga turis yang berpengalaman diberikan harga yang ‘luar biasa’).

Sampai di hotel, proses check in nya juga tidak berbelit-belit, seperti prosedur pada umumnya, verifikasi identitas, dan peletakan deposit sebagai jaminan yang akan dikembalikan ketika check out nanti. Hotel yang saya tempati saat itu adalah Hotel Richmonde Eastwood, dan komentar concierge nya ketika mengantarkan barang-barang saya ke kamar adalah “You don’t look like foreigner, I thought you are a local citizen” bukan pertama kalinya saya menerima komentar ini, tapi sampai sekarang saya juga masih heran apa yang membuat orang bilang saya seperti penduduk lokal Filipina.20170312_171949

Gambar 2. Kamar hotel saya di Richmonde Eastwood

Setelah seluruh barang-barang saya beres dan saya sudah membersihkan diri, saya ‘keluyuran’ di Eastwood Mall, sebuah pusat perbelanjaan yang sangat dekat dengan hotel tempat saya tinggal, bahkan di lantai 2 nya terhubung dengan hotel saya. Saya makan malam disana, dimana setelah perjalanan jauh Jakarta-Manila, restoran yang saya pilih untuk makan malam saat itu adalah……………………McDonalds. Anyway perjalanan saya ke Manila sangat menyenangkan, hotel yang saya tempati juga menyediakan makanan dan pelayanan yang sangat baik, tapi berhubung ini untuk kepentingan pekerjaan, selama kurang lebih 1 minggu saya hanya ke kantor dan pulangnya hanya ada waktu untuk mengekspolorasi mall saja, jadi tidak ada tempat wisata yang saya kunjungi.

Gambar 3 dan 4. Eastwood Mall dan saya di depan Eastwood Mall

Keadaan Kota Manila sendiri tidak terlalu berbeda dengan Jakarta, tapi menurut saya infrastruktur dan transportasinya lebih tertata, namun kemacetan dan kepadatan kendaraannya hampir sama dengan Jakarta. Untuk makanan sendiri saya tidak terlalu banyak mengeksplorasi makanan lokal, berhubung di Manila banyak sekali sajian/makanan/menu yang mengandung babi, karena ini pertama kalinya saya di kota ini saya lebih memilih untuk play safe dengan makanan-makanan restoran barat atau asia yang menyajikan menu non-babi.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Ley

(Bukan) Lentera Jiwa

Tags

, , ,

Dewasa ini, setelah terjun ke realita yang sebenarnya di dunia kerja, menemukan banyak sekali orang yang salah menerjemahkan lentera jiwa. Pribadi yang realistis memang harus, tetapi realistis dan membohongi diri sendiri juga ternyata masih beda tipis. Dan pada beberapa kondisi realistis dan munafik juga beda tipis.

Menurut saya lentera jiwa itu bukan sekedar mengerjakan sesuatu yang tidak anda benci, atau sekedar mengerjakan sesuatu yang nyaman untuk dikerjakan. Lentera jiwa juga bukan sekedar mengerjakan sesuatu di lingkungan yang nyaman dengan pemimpin atau atasan yang menyenangkan. 

Jadi, adalah salah ketika seseorang mengatakan sesuatu adalah passionnya semata-mata karena lingkungan yang nyaman, bidangnya yang ‘sekedar’ menarik, tempatnya berkegiatan yang ‘sekedar’ bergengsi dan pamor, atau memiliki pemimpin yang ramah dan sabar atau mendapatkan kompensasi dan keuntungan yang besar. Menurut saya itu sekedar nyaman. Jadi pikir berkali-kali sebelum mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan itu bukan passion dan sesuatu yang menyenangkan adalah passion anda. Jangan-jangan anda hanya sekedar tidak tahan banting dengan lingkungan dan seenak jidat pilah pilih kemudian berlindung dibalik topeng yang menyatakan lingkungan yang tidak ideal, ataupun itu bukan passion anda. Sungguh saya tidak ingin menjadi pribadi yang seperti itu dan semoga tidak akan pernah.

Dan passion ataupun Lentera Jiwa anda itu tidak akan selalu mulus. Pasti ada kalanya anda akan merasa tertekan, ada kalanya harus berhadapan dengan sistem yang kotor dan tidak ideal, ada kalanya harus melakukan sesuatu yang bahkan melebihi porsi dan bahkan kesanggupan anda. Kalau anda berpikir bekerja dengan passion itu kondisi di lapangannya akan sama persis dengan apa yang anda inginkan dan doing something happily ever after itu salah. Justru itu kenapa namanya Lentera. Tidak padam, tetap terang dalam kegelapan. Kalau cahaya sudah ada ya tidak akan butuh lentera. Bahkan anda harus tahan dengan bantingan realita, dan menghadapi etika profesionalisme dimana melakukan apa yang diperintahkan adalah definisinya, bukan melakukan apa yang anda inginkan. Cicipi melaksanakan passion dengan kondisi itu. Then go ahead talk about fight in your passion.

Dan jangan lupa, tidak berada di passion anda bukan berarti melupakan suatu hal yaitu Tanggung Jawab dan profesionalisme. Berada di tempat yang tidak nyaman dan tidak sesuai lenteranya, tetapi tidak berani meninggalkan karena masih membutuhkan kompensasi ya munafik.Tidak berani meninggalkan tetapi berani pergi ketika ada hal yang menggiurkan (tetapi bukan karena Lenteranya) juga masih munafik. Berlindung dibalik topeng ‘mencari pengalaman’ tanpa ada arah dan berdasarkan pertimbangan nyaman atau tidak. Jadi bila masih munafik, Don’t you dare talk about passion, karena mengejar dan bertanggung jawab dengan kata-katanya saja tidak berani. Semacam mencintai Tuhan tanpa bukti dan mencintai orang hanya dengan kata-kata manis.

Sulit untuk berintegritas, tetapi saatnya kita untuk totalitas, dengan kata-kata yang telah kita keluarkan. Saya tidak sudi meninggalkan kata-kata yang telah saya lontarkan hanya karena ketidaknyamanan dan kebosanan semata. Awalnya memang dimulai dengan memaksa diri, tapi sekarang setidaknya sebelum melontarkan apapun saya berpikir berkali-kali, apalagi yang berhubungan dengan tekad dan keinginan saya di masa depan. Pada beberapa titik memang seperti orang yang berbuat bodoh, rela kelaparan hanya karena gengsi, tetapi di banyak titik, itu membuat saya sadar bahwa kata-kata kita tidak hanya didengar oleh Tuhan, tetapi didengar, ditandai atau bahkan diingat banyak orang. Dan banyak situasi dimana harga diri kita pun dinilai dengan seberapa besar dan banyaknya kita menepati kata-kata yang telah kita lontarkan.

Berkata “Aku ingin A”, “Aku mau B” dan “Aku akan C” memang tidak hanya sekedar DO’A tapi TANGGUNG JAWAB kita untuk berusaha sesuai dengan apa yang kita ucapkan.

“Lentera bersinar di dalam kegelapan, bukan ketika cahaya menyengat. Lentera jiwa akan membuat anda selalu berpikir bahwa hidup bukan sekedar tentang anda, tetapi bagaimana untuk menerangi banyak orang”

Evening thought, di kala banyak menemukan orang yang banyak mengubah keputusan, berlari dan menjauh hanya karena ketidaknyamanan, kebosanan, dan ketidakbetahan. Topeng ‘cari pengalaman’ dan ‘ingin mencoba’ memang sedang trendi sepertinya.

Ley 

Video

Iklan Anti Rokok Kreatif

Tags

,

Saya bukan perokok. Tetapi saya juga bukan orang yang keberatan apabila ada orang yang merokok di depan atau di samping saya. Saya tidak akan menegur mereka. Tingkat toleransi saya memang cukup besar.

Ngomong-ngomong orang yang merokok, jarang ada orang yang mempropagandakan anti rokok dari sudut pandang global warming. Dan iklan ini sekreatif itu mendramatisirnya! Pesan seperti ini memang harus dapat disampaikan dengan cara yang unik alih-alih hanya menuliskan “merokok dapat menyebabkan serangan jantung..dst”

Selamat menonton guys!

Another 4 1/2

Tingkat 1 dan 2 (16-17 tahun hidup di dunia) : Sangat eksplosif di media sosial, banyak hal kecil di update, banyak sekali emosi remeh diluapkan di media sosial

Tingkat 3 (18 tahun): Masa transisi, eksplosif biasanya dalam tataran pendapat dan ketidakterimaan akan hal diluar diri yang berjalan tidak seperti harapan

Tingkat 4 (19 tahun) : Mulai sadar diri, setidaknya selalu ada yang keras dalam mengingatkan bahwa ingin atau tidak ingin selalu ada orang yang mengamati dan terpengaruh pada diri ini baik sebagai role model atau tidak. 

Tingkat 4 1/2 (20 tahun diberi kehidupan oleh Tuhan) : Media sosial adalah tempat yang terbuka untuk mengekspresikan banyak hal, dan setiap orang bebas untuk mengungkapkan apapun, bahkan setiap orang bebas untuk mengeluh dan ‘meledak’ sebanyak mungkin. Tetapi setidaknya sekarang saya sadar dan paham bahwa saya bertanggung jawab pada 2.148 friend saya di facebook, 62 followers saya di tumblr, dan 569 followers saya di twitter dan ‘penonton’ saya di media sosial lainnya. Saya bertanggung jawab agar mereka tidak menjadi negatif baik perasaannya, baik tindakannya, baik pemikirannya karena membaca ketidakbijakan saya dalam menumpahkan sesuatu. Tidak, bukan pencitraan maksud saya. Tetapi memilih dan memilah, apa yang perlu dibagi, apa yang akan membantu orang lain dan apa yang tidak perlu mereka ketahui dan mereka judge 

Pernah menghabiskan hidup anda untuk sebuah kekhawatiran,judgement atau negative thinking yang tidak perlu? Habis kah energi anda? Saya rasa jawabannya iya. Setidaknya saya berusaha untuk meminimalisir orang-orang yang seperti itu akibat apapun yang saya tuliskan di media sosial. 

Dan kali ini saya tidak hanya berterima kasih kepada kampus dan kemahasiswaan, tetapi saya berterima kasih kepada teman-teman saya karena saya pun bagian gambaran dari pergaulan saya dan mengapresiasi diri untuk pemilihan teman dan menjauhnya saya dari beberapa jenis pergaulan. “Pendidikan yang paling bodoh adalah memerintahkan anak untuk tidak pilih-pilih teman” – Mario Teguh

Dan saya bersyukur atas teman-teman yang saya pilih. Bergaul dengan penjual parfum memang pasti akan terciprat wanginya. 

Sembuh

Terutama dalam setahun terakhir ini, saya belajar bahwa penyembuhan pada diri sendiri lebih cepat terjadi ketika kita berpikir keras bagaimana menyembuhkan orang lain. Mungkin banyak orang yang berpikir “Lha urusan diri sendiri saja belum beres, ngapain mikirin orang?” Saya pun dulu seperti itu, sekitar 19 tahun kehidupan saya, saya berpikir seperti itu, walau saya jarang keberatan untuk membantu orang lain. Tetapi dalam implementasinya, dalam 19 tahun itu saya selalu menggunakan pola : sudah selesai? Kalau sudah oke bantu orang lain. Kalo belum, mikir dulu deh. 

Tetapi saya menemui banyak hal, banyak orang dan banyak kejadian yang membuat semua itu berubah. Memang benar, memudahkan orang lain akan membuat Tuhan membuka jalan kemudahan bagi kita dan selalu ingatlah bahwa tidak ada orang yang pernah jatuh miskin karena memberi. 

Banyak hal yang mungkin menurut orang ‘bodoh’ untuk saya lakukan atau juga ‘sia-sia untuk dilakukan’ kalau ditinjau secara logis. Karena dalam kelelahan, atau keribetan yang saya hadapi masih tetap setidaknya memaksakan untuk memenuhi janji atau tuntutan, atau permintaan tolong orang lain. Mungkin karena sombong, mungkin karena terlalu tidak mau menjilat ludah sendiri, mungkin karena tidak enak dan takut mengakuinya atau mungkin juga karena terlanjur merasa hebat untuk menolong orang lain. Haha perkiraan landasannya tidak mulia-mulia sekali ya? Tetapi setiap kali saya berhasil melaluinya, saya tahu dan sadar bahwa itu adalah keputusan terbaik yang saya ambil. Seminimal-minimalnya, mendapatkan rasa bangga di hati, karena berhasil menekan kepentingan diri sendiri demi orang lain. Kalau harus memamerkan sesuatu, saya lebih memilih untuk pamer ‘perbuatan bodoh’ yang saya lakukan ini karena semua kebaikan yang terjadi pada saya di masa depan memang tidak pernah lepas dari seluruh perbuatan bodoh itu. Dan ke depannya, semoga landasan saya akan terus lebih baik 😀

4 1/2

My organizational behaviour

Ketika berkumpul, berdiskusi, berevaluasi,

Tingkat 1 : Saya hanya mendengarkan, takut mengungkapkan opini dan menganggap diri ini belum cukup ilmu bagaimanapun juga

Tingkat 2 : Ikut berpendapat dan umumnya pada bagian yang spesifik, ditandai dengan “Mungkin lebih baik kalau pada pelaksanaannya”

Tingkat 3 : Sudah berani untuk menekankan apa yang menurut saya benar, biasanya diawali dengan “Seharusnya diterapkan…”

Tingkat 4 : Mulai mengkritik secara sistemik dan memaparkan kekurangan pada suatu hal/bagian/sistem/orang , ditandai dengan “Ada yang cacat dengan…seharusnya tidak….itu merupakan kesalahan besar”

Tingkat 4,5 : I evaluate myself everytime when I speak to someone, or some groups, kalimat yang paling sering saya gunakan kali ini “Mungkin ini merupakan kekurangan saya, Evaluasi untuk diri saya juga, Sebagian dari ini merupakan kesalahan saya, jadi mari kita bersama…..” dan percayalah dulu saya sangat berat untuk mengucapkan kata-kata yang berupa evaluasi bagi diri sendiri, bilapun terucap, tidak pernah terlaksana tanpa sepercik emosi defensif yang membela diri sendiri…Sekarang? 🙂 Bahkan percikan emosi defensif itu sudah lama terkubur dan tak pernah muncul ke permukaan

Kinda love my 4,5th grade and glad I didn’t graduate before I can say “what happened here was my mistake”

Something Mine

Berhubung lagi gak ada inspirasi yang catchy buat ditulis saya pengen tulis tentang barang-barang pribadi saya dan sejarahnya aja. Salah satunya kacamata saya, bisa diliat digambar dibawah ini.

Kacamata Full Frame Semi Bulat

Taraa kacamata saya yang saya pakai hingga sekarang

Anyway, saya pake kacamata sejak tahun 2010. Kalau gak salah waktu itu minusnya 1 di mata kiri dan mata kanan 1,5 kalo gak salah. Dulu banget mata saya cuma minus 0,5 dan menurut berbagai sumber kalo minusnya taraf 0-1 memang gak perlu pake kacamata, bahkan disarankan untuk tidak pake, karena pada tataran segitu kemungkinan mata untuk membiasakan diri dengan kondisi mata normal dan kembali pada gak minus itu sangat besar. Kalau pake kacamata malah matanya gak akan ilang-ilang minusnya.

Na, pas minus saya mencapai 1 saya mulai pake kacamata, tapi gak terlalu sering, jadi paling di kelas kalo mau kuliah aja. Lagipula pegel di hidung dan pada masa-masa tertentu telinga ikut pegel haha. Kacamata pertama saya beli di optic Ganesha, dengan bentuk semi petak.

Beban akademik dan bentukan kebiasaan kerja yang buruk membuat minus saya naik terus, sampe akhirnya pada tahun 2011 minus mata kanan saya 2 dan minus mata kiri saya 1,5. Saya ganti kacamata dengan yang benar-benar petak, kali ini kacamata saya bagus, merknya Fendi dengan lensa Essilor. Uwaw (diganti soalnya sama PT Badak huhahaha). Essilor itu lensa yang setau saya udah paling oke buat kacamata. Saya mulai lebih bertahan pake kacamata, dan kalaupun gak, saya pake contact lense. Ada plus minusnya, kalo pake kacamata hidung pegel, tapi bisa tidur dimana aja seenak jidat. Kalo pake contact lense jangan harap bisa tidur di sembarang tempat, di kelas jadi gak bisa tidur juga kan (seenaknya) huahahag. Bencana tiba ketika ni kacamata entah kenapa gagangnya selalu aja turun (sedih punya hidung pesek) dan walaupun udah dikencengin berkali-kali tetep aja gak bisa bertahan lama di hidung @_@ akhirnya ganti ke yang murah dan lumayan enak dan lumayan lama saya pake.

Tahun 2012 (pulang KP) saya ganti kacamata jadi yang bentuknya agak bulat. Nah! Ini nih jodoh saya (jodoh kacamata maksudnya) kacamata yang bentuknya bulat ini match banget dan jarang banget turun berkali-kali, karena cocok dengan hidung yang pesek dan gede seperti hidung saya. Tapi setelah 6 bulan dipake tiba-tiba HILANG karena keteledoran saya sediih aaaaaaa padahal udah bagus dan enak banget dipake.

Hingga akhirnya saya beberapa lama menderita (pake contact lense terus) dan akhirnya ke optik lagi beli kacamata dan akhirnya jodoh dengan kacamata yang digambar diatas tadi! Harganya murah 300 ribu dan kalo jatuh dari jarak lebih dari 1 meter lensanya langsung copot, tapi ini udah enak banget dipakenya haha. Plus karena lensanya bentuknya agak bulat kalo saya kurang tidur saya gak terlalu keliatan mata pandanya huahhahag

Anyway minus mata saya sekarang udah sekitar minus 3, tapi saya belum ganti lensa kacamata saya dari minus 2 (gak bisa move on dan berharap dengan make minus 2 akan balik lagi jadi 2) haha mungkin besok atau minggu depan bakal saya ganti dengan yang minusnya sesuai karena memang mulai gak nyaman haha masa udah pake kacamata sering micing2 pas ketemu orang.

Dan buat yang matanya masih normal sayangilah mata kalian, jangan melakukan kebiasaan buruk seperti saya contohnya : baca sambil tidur, tidur di depan laptop, ngerjain tugas atau ngenet depan layar laptop dalam waktu terlalu lama (kalopun harus pake kacamata netral antiradiasi ajaa hehe), atau nonton TV terlalu dekat, atau ngelaptop sambil matiin lampu. Akibatnya minusnya naik terus. Oh iya jangan nyobain kacamata orang juga soalnya walaupun minusnya sama titik fokus mata orang beda-beda.

Sekian! Hahaha semoga bermanfaat!!!

Sakit

Sakit. Tiba-tiba terpikir berapa banyak orang yang merasa ‘tersakiti’ atau ‘disakiti’. Saya coba untuk mendefinisikannya dulu. Buat saya, definisi dari disakiti atau tersakiti itu adalah mendapatkan perlakuan atau tindakan yang menyebabkan kerugian (baik finansial (uang), barang, ataupun fisik dan mental). Kerugian finansial saya rasa semuanya bisa mengerti, dapat saja terjadi dalam bentuk ditipu orang lain, atau uangnya dibawa lari, ataupun dalam bentuk lainnya. Kerugian dalam bentuk barang, hampir sama dengan finansial hanya saja bentuknya bukan uang, mungkin barangnya hilang, dicuri, dirusak, dan sebagainya. Kerugian fisik? Cukup jelas. Misalnya dipukuli. Sementara kerugian dalam bentuk mental ini menurut saya dapat terjadi dalam bentuk dibohongi orang lain, diingkari janjinya, atau disakiti perasaan ataupun elemen ke’aku’an dalam dirinya melalui tindakan ataupun kata-kata tertentu. Ada yang punya definisi lain? Silahkan, monggo. Definisi versi saya hanya saya buat untuk membantu saya berpikir.

Anyway, saya pernah menyatakan pada suatu tulisan saya bahwa menurut saya kita tidak boleh menyakiti orang lain. Tetapi apabila kita disakiti orang lain, saatnya berpikir bagaimana caranya agar kita baik-baik saja. Saya rasa itu manusiawi, setidaknya begitulah saya hingga saat ini. Siapa yang ingin merasakan sakit? Saya rasa tidak ada, yah namanya manusia, begitu pula saya, saya sangat menghindari untuk merasa sakit. Bahkan terkadang saya membentengi diri saya dari hal-hal yang berpotensi untuk membuat saya terharu atau menjadi melankolis (parno dan takut dianggap cengeng karena pernah berada dalam fase jatuh walaupun mungkin sudah terjadi entah kapan dalam rentang waktu yang jauh dari sekarang -> permasalahan semua orang yang ketinggian harga diri dan terlalu peduli dengan pendapat orang lain).

Saya bukan malaikat dan saya bukan orang bijak. Ketika saya dirugikan saya ingin yang merugikan saya mendapat hukuman. Hukuman yang walaupun mungkin bukan saya yang menghukumnya. Tapi saya hanya ingin berbagi bahwa banyak rasa sakit yang telah terjadi setidaknya sepanjang 20 tahun 6 bulan dan 3 hari hidup saya membuat saya belajar seberapa penting harga diri tiap manusia. Mungkin kita bisa menyakiti perasaan orang lain melalui tindakan apapun, tapi perasaan yang sakit selalu bisa dimaafkan bukan? Beda ceritanya bila menyakiti harga diri, saya rasa itu tidak bisa. Berhati-hatilah dengan ke’aku’an orang lain. Jangan pernah menyinggung itu.

Sakit atau rugi karena tertipu dan uangnya dicuri, atau hilang atau dibawa kabur akan mengajarkan kepada anda untuk menghargai tiap lembar uang yang anda punya dan membuat anda berhati-hati dalam mengeluarkan uang tersebut. Sakit atau rugi karena barang hilang akan membuat anda ingat bahwa mungkin anda kurang bersedekah sehingga sebagian dari harta anda ditarik oleh Tuhan dan diberikan mungkin kepada yang lebih membutuhkan. Sakit karena diingkari janjinya akan membuat anda belajar bahwa anda harus menjadi pribadi yang tidak munafik dan sembarangan dalam berjanji dan berbicara. Sakit karena diremehkan ataupun direndahkan, membuat saya belajar bahwa setiap manusia butuh pengakuan. Dan saya rasa tidak ada yang bisa menggantikan betapa berharganya bukan cuma pelajaran itu tetapi perubahan yang terjadi pada diri anda sejak semua itu terjadi.

Hukuman pada orang yang merugikan anda itu cuma bonus. Tetapi dalam keadaan terjatuh, tersedih atau terfrustasi anda, hukuman itu mungkin menjadi salah satu hal yang membuat api semangat anda menyala. Saya rasa itu manusiawi. Sebagai bonus, karma memang tidak perlu ditunggu. Bila anda yakin orang yang jahat akan mendapatkan balasannya, ‘sambil menunggu karma’ jadilah orang yang baik, atau setidaknya perbaiki diri anda. Dan bukankah apabila anda tahu bahwa orang yang merugikan anda akan mendapatkan balasannya suatu saat nanti sudah tidak ada lagi alasan untuk bersedih atau iri, ataupun frustasi. Hari kemenangan itu akan tiba, dan anda bebas mendefinisikan hari kemenangan itu sendiri di benak masing-masing. Kapan hari kemenangan itu? Saya tidak hanya sedang menunggunya, tetapi juga mengejarnya. Anda? 🙂 Semoga kita sedang melakukan hal yang sama ya, dan semoga kita bisa tersenyum di hari itu.

Levina L Suprapto (Ley).

Bukan orang bijak.

Renungan Suatu Siang

Memikirkan diri sendiri itu menurut saya manusiawi. Mengutamakan diri sendiri juga manusiawi. Tapi saya baru sadar akan beberapa hal setelah beberapa hal yang terjadi dalam hidup saya membuat saya berpikir. Berbuat baik kepada orang lain baik dalam hal membantu atau setidaknya berusaha untuk tidak menyakitinya memang bisa dilakukan melalui apa saja. Semua itu tergantung pribadi masing-masing. Tapi, menyakiti orang lain demi mengutamakan diri sendiri itu hal yang sudah banyak yang terjadi pula di dunia ini.

Tapi setidaknya beberapa bulan terakhir ini saya menemukan kesimpulan dari segala hal yang terjadi di hidup saya, bahkan dalam keadaan teregois kita bukankah kita harus selalu menghindari untuk menyakiti orang lain?

Saya percaya bahwa Tuhan sudah menentukan besar rezeki kita, tetapi saya pun percaya dan yakin bahwa rezeki itu dikirimkan kepada saya melalui orang lain. Orang lain adalah salah satu pintu rezeki kita, dan itu mengapa saya menarik kesimpulan bahwa dalam titik teregois dalam diri sendiri ketika kita hanya mencari manfaat dan keuntungan untuk diri sendiri, hindarilah untuk menyakiti orang lain. Karena, bisa jadi pintu rezeki itu tertutup untuk kita.

Dan pengaruh renungan diatas terhadap hidup saya adalah, dalam segala hal saya tidak boleh menyakiti orang lain, setidaknya saya berusaha sekuat mungkin untuk menerapkan itu, tetapi apabila saya disakiti orang lain, saatnya saya berpikir dan melakukan apapun yang saya butuhkan agar saya baik-baik saja dalam konteks ‘butuhkan’ dan ‘inginkan’ adalah 2 hal yang berbeda. Ketika saya disakiti ataupun tersakiti mungkin saya ingin menyakiti orang yang menyakiti saya, tetapi saya tidak butuh untuk melakukan hal itu, karena saya yakin karma akan jatuh pada waktunya. Yakinilah itu apabila kau belum menguasai ilmu ikhlas, karena tanpa iman kepada masa depan tak akan ada harapan dan semangat pada masa kini.

Renungan Kamis Siang Seorang Ley