Sesederhana Ide dan Tindakan yang Segar, untuk Nafas Segar Indonesia

 

Ada sebuah cerita mengenai pemilik sebuah apartemen yang sering mendapat protes dari penghuni yang ada di apartemen tersebut. Para penghuni tersebut melayangkan protes karena di setiap lantai apartemen yang dihuni oleh sekitar 1000 orang hanya terdapat 2 buah lift dan mereka keberatan untuk menunggu dalam waktu yang cukup lama setiap kali ingin menggunakan lift. Pemilik apartemen pun kebingungan, karena setelah berkonsultasi dengan beberapa kontraktor, biaya konstruksi yang dibutuhkan untuk penambahan jumlah lift cukup mahal. Pemilik memutuskan untuk berpikir terlebih dahulu sebelum memutuskan penambahan jumlah lift tersebut. Sebelum pemilik apartemen mengambil keputusan, ia didatangi oleh seorang psikolog yang mengatakan bahwa ia mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi di apartemen tersebut, dan ia menjanjikan solusi yang ia berikan akan jauh lebih murah dibandingkan dengan penambahan jumlah lift yang pada akhirnya akan memakan jumlah ratusan juta bahkan miliaran rupiah. Solusi yang ia berikan adalah : di tiap lantai apartemen dipasang kaca di dekat lift. Walaupun pemilik apartemen merasa bingung, namun karena biaya yang ia keluarkan jauh lebih murah dan psikolog tersebut menjamin permasalahannya akan selesai ia menuruti saran psikolog tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu setelah kaca tersebut dipasang, protes dari penghuni apartemen tersebut berkurang setiap harinya dan pada akhirnya berhenti. Pemilik apartemen sangat senang namun bingung pula mengapa solusi tersebut berhasil, ia pun bertanya pada psikolog tersebut mengapa cara tersebut berhasil. Psikolog tersebut hanya menjawab dengan pemaparan sederhana, bahwa dasar dari solusi tersebut adalah sifat manusia yang senang melihat  dan mengagumi dirinya sendiri, sehingga mampu menghabiskan waktu yang cukup lama hanya untuk mematut dirinya di cermin.

Saya rasa, dari cerita itu kita sepakat bahwa sebenarnya banyak permasalahan besar yang solusinya tidak perlu sebesar permasalahannya. Kita hanya memerlukan cara berpikir berbeda yang tidak terkungkung dalam suatu penjara pikiran yang selalu berusaha mencari sebuah solusi yang canggih, dahsyat dan besar untuk permasalahan yang ada.  Sulit mungkin bukan kata yang tepat untuk melukiskan cara berpikir yang harus kita tempuh. Lebih tepat dengan menggunakan kata “tidak biasa”. Masih saya katakan tidak biasa karena walaupun banyak yang telah sadar hal yang besar dimulai dari hal yang kecil, namun tidak banyak yang telah melakukannya. Berapa banyak masalah di Indonesia yang sebenarnya bisa kita cicil tahap penyelesaiannya jika saja kita berani berpikir dan bertindak secara bertahap (step by step). Ya. Itu dia. Sebagian besar dari kita terbiasa berusaha keras untuk mencari cara atau solusi yang diharapkan menyelesaikan masalah dalam waktu cepat, massive, dan langsung. Terus berusaha keras mencari penyelesaian tanpa bertindak sedikit pun. Tentu saja habis waktu kita untuk “sekedar” memutar otak sampai pada akhirnya ketika solusi dahsyat itu ditemukan, kita menyadari berbagai keterbatasan dan hambatan yang ada sehingga untuk melaksanakan solusi tersebut pun sulit.

Mari kita ambil sebagai contoh : masalah pendidikan. Pemerataan pendidikan masih menjadi hal yang harus diperbaiki begitu pula dengan biaya sekolah yang mahal. Berbagai cara dicari untuk menyelesaikan permasalahan ini dan banyak orang menghabiskan waktu untuk terus mencari cara menambal kekurangan biaya pendidikan. Sementara banyak orang yang sibuk berpikir dan mengkaji secara rumit tinjauan sistemik maupun teknis untuk menyelesaikan permasalahan itu, segelintir orang yang berani berpikir dari sudut pandang lain telah selesai membangun sekolah alam  yang didasari oleh pertimbangan bahwa sekolah mahal karena harus membayar Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) yang  besarnya sangat dipengaruhi oleh dana bangunan. Terbentuklah sekolah alam yang memiliki bangunan atau ruangan yang sangat sederhana sehingga menyelesaikan beberapa bagian permasalahan dari mahalnya biaya pendidikan.

Begitu pula dengan permasalahan lingkungan. Hal yang sedang menjadi isu besar tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Sekarang kita kebingungan untuk mengurangi jumlah CO2 yang cukup tinggi akibat dari naiknya jumlah pengguna kendaraan di Indonesia. Banyak yang terlarut membahas fakta naiknya jumlah kendaraan di Indonesia diakibatkan oleh banyaknya penjual kendaraan yang menerima pembayaran dengan sistem kredit tanpa bergerak secara konkret untuk membantu bahkan sebagian kecil saja upaya untuk mereduksi CO2. Sementara pembahasan fakta tersebut berlangsung, sebagian orang lagi sedang sibuk membahas teknologi apa yang dapat digunakan untuk mereduksi CO2 dan beberapa bagian lagi sibuk mengkritik pemerintah dan berbagai industri atau elemen-elemen lain yang berkontribusi menghasilkan CO2.

Jika saja kita benar-benar percaya bahwa perubahan yang besar berasal dari sesuatu yang kecil, kita pasti akan dapat mengingat bahwa ada hal kecil yang dapat dilakukan sebagai kontribusi kita membantu mengurangi CO2. Hanya dengan menanam pohon atau tanaman hijau, kita dapat berkontribusi untuk mereduksi emisi yang dihasilkan dari jumlah kendaraan yang tinggi. Bahkan bila menanam pohon dianggap agak sulit karena harus mencari tempat atau lahan yang sebenarnya sekarang sudah banyak berkurang akibat pembangunan, kita dapat menggantinya dengan berbagai konsep lain yang sama baiknya. Kebun raya misalnya, konsep ini dapat pula dilaksanakan untuk mengganti penanaman pohon. Bahkan pembuatan kebun raya dapat memberikan beberapa keuntungan lain seperti dapat dijadikan objek wisata, dan dapat dikreasikan untuk menambah nilai estetika. Tidak memerlukan lahan yang begitu besar sebenarnya. Jangan berpikir kebun raya membutuhkan lahan berpuluh-puluh meter. Sekecil apapun lahan yang dimiliki, segala hal dapat dimaksimalkan potensinya. Hanya membutuhkan analisis kondisi yang baik dan perencanaan yang matang. Tidak boleh pula dilupakan untuk proses perawatannya. Banyak infrastruktur atau aset kita yang dibangun dengan baik namun tidak dirawat dengan baik sehingga menimbulkan kerusakan dan tidak bertahan lama.

Tidak hanya itu, bila kita dapat berpikir sederhana dan mengingat bahwa kertas yang kita gunakan berasal pohon. Masih banyak institusi pendidikan yang membuang begitu banyak kertas yang sebenarnya masih dapat ditekan setiap kegiatan belajar-mengajarnya, atau masih banyak fotokopi yang disengaja hanya pada 1 sisi, kemudian setelah selesai digunakan langsung dibuang dan tak termanfaatkan lagi.

Yah, mungkin segitu dulu beberapa ide dan tindakan sederhana yang bisa saya share kepada pembaca untuk Indonesia yang lebih fresh. Hehe, sebenernya tadinya ini mau dikirim buat lomba essay, tapi gak jadi, klasik alasannya, karena sibuk ngerjain tugas akademik dan yah kurang daya juang untuk memberi waktu lebih menyelesaikan essay ini. Hahaha. Semoga tidak ditiru oleh para pembaca. Semangat yo!