Bagi. Share. Give. 


Sebuah kata yang bisa digunakan untuk perlakuan uang, barang, maupun hal-hal yang tidak konkret seperti pengalaman, kasih sayang, perhatian, dan sebagainya. 

Hanya sebuah pengalaman pribadi yang ingin saya bagi, tentunya tentang berbagi. Konsep bersedekah melancarkan rezeki sudah sangat familier dimana-mana, tetapi saya baru mempraktekkannya dengan rutin dan terencana 6 bulan terakhir. 

Segala sesuatu memang membutuhkan momentum. Karena suatu momentum pula saya memulai semua hal ini. 

Dulu sekali, ketika saya disertifikasi untuk melakukan treatment pada orang-orang yang merasakan sakit baik fisik maupun mental, saya ditanamkan sekali untuk melakukan hal itu. Bahkan saya ditawarkan untuk langsung memotong 20% penghasilan (dalam hal ini uang jajan karena saya belum bekerja). Tapi waktu itu saya menolak. Haha. Klasik, saya takut uang jajan saya kurang, apalagi potongannya 20%, jadi bersedekah ya ala kadarnya dan bila mood saja. 

Ke depannya saya memang ingin bersedekah tapi tidak tetap, dan hanya ke tempat-tempat tertentu yang memiliki kotak amal yang terpercaya penyalurannya, saya tidak terlalu suka memberi uang kepada pengemis yang berada di jalanan. Saya lebih suka uang saya masuk dan disalurkan dengan baik oleh penanggung jawab yang bisa dipercaya. 

Sampai suatu saat, saya random dan membuka web Rumah Zakat. Sebuah lembaga yang dari dulu sudah dikenal menyalurkan zakat dan bantuan untuk orang-orang yang kurang mampu, namun tidak pernah saya pergunakan sebagai media. Mencatat nomor rekening, dan seingat saya sedekah perdana saya melalui lembaga ini dilakukan via transfer sebesar 50 ribu rupiah. 

Saya tidak terlalu merasakan ada perubahan yang luar biasa, tetapi jelas, setiap selesai melakukan transfer rasanya hati lega, senang dan riang, dan bangga pada diri sendiri. Periode sedekah berikutnya, saya menyumbangkan 3x lipat dari sedekah perdana saya. Dan memang sejak saat itu saya merasakan beberapa perubahan, entah orang tua yang tiba-tiba lebih sering menambah jumlah uang saku saya padahal saya tidak dalam keadaan meminta ataupun kekurangan, ataupun rezeki dalam bentuk lain misalnya : makan gratis, traktiran dan lain-lainnya

Suatu saat, saya ingin menyumbangkan yang lebih besar lagi, entah kenapa ketika saya berada di depan ATM untuk melakukan transfer rutin, saya memasukkan angka 500 ribu. Sebuah angka yang menurut saya ajaib saya bisa merelakannya, mengingat itu cukup besar porsinya dari uang saku saya, dan bila ini terjadi pada beberapa tahun lalu sepertinya saya tidak akan sanggup merelakannya, haha tetapi semua pelajaran hidup yang terjadi selama hampir 4 tahun saya kuliah di ITB sepertinya membuat saya banyak belajar dalam melepaskan sesuatu. 

Dan balasannya, tidak perlu menunggu terlalu lama. Beberapa hari kemudian papa saya menelepon, berkata bahwa telah mengirimkan saya uang sebesar 10x lipat sedekah saya tadi dengan alasan untuk membantu berbagai keperluan saya dalam melaksanakan Tugas Akhir. Terutama sejak saat inilah, saya bertekad, saya harus melakukan yang lebih baik lagi, merelakan lebih banyak lagi dan membantu lebih banyak orang lagi. Sejak saat itu, saya rutin menyisihkan penghasilan (lagi-lagi dalam hal ini uang jajan karena saya belum bekerja) saya sebesar sekitar 20-25% untuk zakat profesi dan sedekah. 

Dan beberapa hari yang lalu, saya juga sudah memotong uang saku saya untuk disumbangkan seperti biasa, dan lagi balasannya tidak perlu menunggu lama. Tiba-tiba hari ini, ayah saya datang dari Jakarta membawakan Pizza 1 loyang dan memberikan saya uang saku tambahan yang besarnya hampir sama dengan uang yang saya keluarkan untuk disumbangkan. 

6 bulan ini, kebutuhan saya sebagai mahasiswa tingkat 4 cukup banyak dan cukup besar, terutama dana yang sangat banyak terkuras untuk mencetak laporan entah KP, TA yang beratus-ratus halaman dan hal-hal lainnya, dan saya juga wanita, walaupun tidak sering tapi saya berbelanja dan tipe orang yang sering makan banyak, tetapi toh saya tidak pernah kehabisan uang. Bahkan, saya jarang merasa kesusahan ketika akhir bulan dimana banyak orang yang mengeluh karena uang saku belum dikirim. 

Dan ketika saya membuat tulisan ini, saya sedang tersenyum sambil berkata dalam hati “Pikiran anda sempit, bila anda berpikir bahwa dunia ini seperti sepotong kue yang akan habis bila dibagi” Saya rasa kisah inspiratif yang berasal dari kerelaan untuk berbagi sudah banyak beredar, dan banyak pula yang terjadi pada orang-orang hebat dan berpengaruh di dunia ini. Jadi, masihkah anda takut dan berhitung untuk berbagi?