Memikirkan diri sendiri itu menurut saya manusiawi. Mengutamakan diri sendiri juga manusiawi. Tapi saya baru sadar akan beberapa hal setelah beberapa hal yang terjadi dalam hidup saya membuat saya berpikir. Berbuat baik kepada orang lain baik dalam hal membantu atau setidaknya berusaha untuk tidak menyakitinya memang bisa dilakukan melalui apa saja. Semua itu tergantung pribadi masing-masing. Tapi, menyakiti orang lain demi mengutamakan diri sendiri itu hal yang sudah banyak yang terjadi pula di dunia ini.

Tapi setidaknya beberapa bulan terakhir ini saya menemukan kesimpulan dari segala hal yang terjadi di hidup saya, bahkan dalam keadaan teregois kita bukankah kita harus selalu menghindari untuk menyakiti orang lain?

Saya percaya bahwa Tuhan sudah menentukan besar rezeki kita, tetapi saya pun percaya dan yakin bahwa rezeki itu dikirimkan kepada saya melalui orang lain. Orang lain adalah salah satu pintu rezeki kita, dan itu mengapa saya menarik kesimpulan bahwa dalam titik teregois dalam diri sendiri ketika kita hanya mencari manfaat dan keuntungan untuk diri sendiri, hindarilah untuk menyakiti orang lain. Karena, bisa jadi pintu rezeki itu tertutup untuk kita.

Dan pengaruh renungan diatas terhadap hidup saya adalah, dalam segala hal saya tidak boleh menyakiti orang lain, setidaknya saya berusaha sekuat mungkin untuk menerapkan itu, tetapi apabila saya disakiti orang lain, saatnya saya berpikir dan melakukan apapun yang saya butuhkan agar saya baik-baik saja dalam konteks ‘butuhkan’ dan ‘inginkan’ adalah 2 hal yang berbeda. Ketika saya disakiti ataupun tersakiti mungkin saya ingin menyakiti orang yang menyakiti saya, tetapi saya tidak butuh untuk melakukan hal itu, karena saya yakin karma akan jatuh pada waktunya. Yakinilah itu apabila kau belum menguasai ilmu ikhlas, karena tanpa iman kepada masa depan tak akan ada harapan dan semangat pada masa kini.

Renungan Kamis Siang Seorang Ley