Sakit. Tiba-tiba terpikir berapa banyak orang yang merasa ‘tersakiti’ atau ‘disakiti’. Saya coba untuk mendefinisikannya dulu. Buat saya, definisi dari disakiti atau tersakiti itu adalah mendapatkan perlakuan atau tindakan yang menyebabkan kerugian (baik finansial (uang), barang, ataupun fisik dan mental). Kerugian finansial saya rasa semuanya bisa mengerti, dapat saja terjadi dalam bentuk ditipu orang lain, atau uangnya dibawa lari, ataupun dalam bentuk lainnya. Kerugian dalam bentuk barang, hampir sama dengan finansial hanya saja bentuknya bukan uang, mungkin barangnya hilang, dicuri, dirusak, dan sebagainya. Kerugian fisik? Cukup jelas. Misalnya dipukuli. Sementara kerugian dalam bentuk mental ini menurut saya dapat terjadi dalam bentuk dibohongi orang lain, diingkari janjinya, atau disakiti perasaan ataupun elemen ke’aku’an dalam dirinya melalui tindakan ataupun kata-kata tertentu. Ada yang punya definisi lain? Silahkan, monggo. Definisi versi saya hanya saya buat untuk membantu saya berpikir.

Anyway, saya pernah menyatakan pada suatu tulisan saya bahwa menurut saya kita tidak boleh menyakiti orang lain. Tetapi apabila kita disakiti orang lain, saatnya berpikir bagaimana caranya agar kita baik-baik saja. Saya rasa itu manusiawi, setidaknya begitulah saya hingga saat ini. Siapa yang ingin merasakan sakit? Saya rasa tidak ada, yah namanya manusia, begitu pula saya, saya sangat menghindari untuk merasa sakit. Bahkan terkadang saya membentengi diri saya dari hal-hal yang berpotensi untuk membuat saya terharu atau menjadi melankolis (parno dan takut dianggap cengeng karena pernah berada dalam fase jatuh walaupun mungkin sudah terjadi entah kapan dalam rentang waktu yang jauh dari sekarang -> permasalahan semua orang yang ketinggian harga diri dan terlalu peduli dengan pendapat orang lain).

Saya bukan malaikat dan saya bukan orang bijak. Ketika saya dirugikan saya ingin yang merugikan saya mendapat hukuman. Hukuman yang walaupun mungkin bukan saya yang menghukumnya. Tapi saya hanya ingin berbagi bahwa banyak rasa sakit yang telah terjadi setidaknya sepanjang 20 tahun 6 bulan dan 3 hari hidup saya membuat saya belajar seberapa penting harga diri tiap manusia. Mungkin kita bisa menyakiti perasaan orang lain melalui tindakan apapun, tapi perasaan yang sakit selalu bisa dimaafkan bukan? Beda ceritanya bila menyakiti harga diri, saya rasa itu tidak bisa. Berhati-hatilah dengan ke’aku’an orang lain. Jangan pernah menyinggung itu.

Sakit atau rugi karena tertipu dan uangnya dicuri, atau hilang atau dibawa kabur akan mengajarkan kepada anda untuk menghargai tiap lembar uang yang anda punya dan membuat anda berhati-hati dalam mengeluarkan uang tersebut. Sakit atau rugi karena barang hilang akan membuat anda ingat bahwa mungkin anda kurang bersedekah sehingga sebagian dari harta anda ditarik oleh Tuhan dan diberikan mungkin kepada yang lebih membutuhkan. Sakit karena diingkari janjinya akan membuat anda belajar bahwa anda harus menjadi pribadi yang tidak munafik dan sembarangan dalam berjanji dan berbicara. Sakit karena diremehkan ataupun direndahkan, membuat saya belajar bahwa setiap manusia butuh pengakuan. Dan saya rasa tidak ada yang bisa menggantikan betapa berharganya bukan cuma pelajaran itu tetapi perubahan yang terjadi pada diri anda sejak semua itu terjadi.

Hukuman pada orang yang merugikan anda itu cuma bonus. Tetapi dalam keadaan terjatuh, tersedih atau terfrustasi anda, hukuman itu mungkin menjadi salah satu hal yang membuat api semangat anda menyala. Saya rasa itu manusiawi. Sebagai bonus, karma memang tidak perlu ditunggu. Bila anda yakin orang yang jahat akan mendapatkan balasannya, ‘sambil menunggu karma’ jadilah orang yang baik, atau setidaknya perbaiki diri anda. Dan bukankah apabila anda tahu bahwa orang yang merugikan anda akan mendapatkan balasannya suatu saat nanti sudah tidak ada lagi alasan untuk bersedih atau iri, ataupun frustasi. Hari kemenangan itu akan tiba, dan anda bebas mendefinisikan hari kemenangan itu sendiri di benak masing-masing. Kapan hari kemenangan itu? Saya tidak hanya sedang menunggunya, tetapi juga mengejarnya. Anda? 🙂 Semoga kita sedang melakukan hal yang sama ya, dan semoga kita bisa tersenyum di hari itu.

Levina L Suprapto (Ley).

Bukan orang bijak.