Terutama dalam setahun terakhir ini, saya belajar bahwa penyembuhan pada diri sendiri lebih cepat terjadi ketika kita berpikir keras bagaimana menyembuhkan orang lain. Mungkin banyak orang yang berpikir “Lha urusan diri sendiri saja belum beres, ngapain mikirin orang?” Saya pun dulu seperti itu, sekitar 19 tahun kehidupan saya, saya berpikir seperti itu, walau saya jarang keberatan untuk membantu orang lain. Tetapi dalam implementasinya, dalam 19 tahun itu saya selalu menggunakan pola : sudah selesai? Kalau sudah oke bantu orang lain. Kalo belum, mikir dulu deh. 

Tetapi saya menemui banyak hal, banyak orang dan banyak kejadian yang membuat semua itu berubah. Memang benar, memudahkan orang lain akan membuat Tuhan membuka jalan kemudahan bagi kita dan selalu ingatlah bahwa tidak ada orang yang pernah jatuh miskin karena memberi. 

Banyak hal yang mungkin menurut orang ‘bodoh’ untuk saya lakukan atau juga ‘sia-sia untuk dilakukan’ kalau ditinjau secara logis. Karena dalam kelelahan, atau keribetan yang saya hadapi masih tetap setidaknya memaksakan untuk memenuhi janji atau tuntutan, atau permintaan tolong orang lain. Mungkin karena sombong, mungkin karena terlalu tidak mau menjilat ludah sendiri, mungkin karena tidak enak dan takut mengakuinya atau mungkin juga karena terlanjur merasa hebat untuk menolong orang lain. Haha perkiraan landasannya tidak mulia-mulia sekali ya? Tetapi setiap kali saya berhasil melaluinya, saya tahu dan sadar bahwa itu adalah keputusan terbaik yang saya ambil. Seminimal-minimalnya, mendapatkan rasa bangga di hati, karena berhasil menekan kepentingan diri sendiri demi orang lain. Kalau harus memamerkan sesuatu, saya lebih memilih untuk pamer ‘perbuatan bodoh’ yang saya lakukan ini karena semua kebaikan yang terjadi pada saya di masa depan memang tidak pernah lepas dari seluruh perbuatan bodoh itu. Dan ke depannya, semoga landasan saya akan terus lebih baik 😀