Bertahun-tahun hidup, dijejali dengan teori atau lebih tepatnya himbauan dan penekanan bahwa resep sukses yang utama adalah kerja keras. Di banyak cerita rakyat, legenda, anjuran motivator dan kisah inspiratif bisa kita temukan kisah  yang menceritakan orang yang dulunya bukan apa-apa akhirnya berhasil karena kerja keras. Dulu, saya percaya itu hanya sebagai sebuah himbauan, seperti saya percaya dengan kalimat “Rajin pangkal pandai” atau “Hemat pangkal kaya”. Saya menggunakan kata ‘hanya’ karena saya percaya itu adalah hal yang benar, tetapi saya tidak menggunakannya sebagai pegangan hidup, alasannya mudah, karena saya melihat kenyataan bahwa ada beberapa orang yang dari tidak terlihat kerja kerasnya (setidaknya dari sudut pandang saya) namun ada sukses yang dapat mereka petik pula. Ini yang menyebabkan saya mempercayai pernyataan “kerja keras tidak akan mengkhianati hasil” hanya sebagai sebuah teori, karena saya pun melihat kenyataan bahwa ada orang yang bekerja dengan keras tapi hasil pun berkhianat kepadanya (dalam konteks, hasil tidak sebagus yang diinginkan atau bahkan harus menerima kegagalan). Sampai saya kuliah, saya paham bekerja keras adalah kunci sukses, namun yang saya lakukan adalah bekerja sekedarnya.

Saya menempuh pendidikan di sebuah kampus dengan keilmuan  yang didominasi ilmu sains dan teknologi. Penekanan yang banyak saya dapatkan adalah konsep kerja cerdas. Peningkatan efisiensi, penggunaan sumber daya dan energi yang minimum untuk mendapatkan hasil yang optimum. Apabila sumber daya tidak dapat dibuat minimum, rekayasa atau inovasi lain dapat dilakukan demi mendapatkan hasil terbaik. Efisiensi dan kerja cerdas, adalah hal yang ditanamkan di seluruh urat nadi saya sebagai mahasiswa.

Ternyata, butuh waktu untuk sadar bahwa mengapa saya bekerja sekedarnya lebih karena saya tidak punya tujuan. Tujuan yang mengharuskan saya untuk bekerja keras. Ditambah dengan kenyataan bahwa saya bersikap perhitungan. Takut mengeluarkan energi terlalu banyak dengan bekerja keras dan mendapatkan hasil yang tidak seimbang, takut kecewa. Saya pun jumawa, merasa bahwa saya bisa memilih harus diletakkan dimana investasi kerja keras saya, tanpa sadar bahwa segala hal yang terjadi di hidup ini adalah ‘pasar investasi’ dimana apapun hasilnya merupakan kombinasi akan berbagai hal yang parameternya sangat banyak dan yang harus kita lakukan sebagai manusia adalah melakukan porsi lingkaran kita.

Hidup saya berubah ketika saya mulai bekerja. Saya mendapatkan pekerjaan di bidang yang saya inginkan,  dimana saya ingin menjadi yang terbaik di bidang saya, dimana saya mengukur nilai hasil bukan hanya dengan parameter uang. Di titik ini, saya paham bahwa, yang namanya kerja, itu harus keras. Kalau tidak keras, ya bukan kerja. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, saya bekerja lebih keras dan lebih giat dari standar yang harus saya lakukan tanpa ada satu orang pun yang perlu memerintahkannya kepada saya. Tanpa ada satu orang pun yang harus mengingatkan saya.

Jadi, untukmu yang belum paham dan menemukan alasan untuk bekerja keras. Temukanlah tujuanmu. Tentukanlah tujuanmu. Entah itu untuk jadi yang terbaik, untuk pulang dan memberikan hasil kerjamu pada keluargamu, atau ingin memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk khalayak ramai.  Dan bila kau sampai pada titik dimana hasil kerja kerasmu tidak terlihat, ingatlah bahwa kerja keras memang kadang mengkhianati kita, tapi Tuhan tidak pernah mengkhianati kita, baik di saat tinggi ataupun rendah, kembalilah kepada-Nya.

Terima kasih pembaca, sampai bertemu di tulisan selanjutnya

Ley