Tags

, , , , , ,

Halo semuanya! Akhirnya kembali setelah kurang lebih 3,5 tahun tidak mengeluarkan tulisan di blog ini. Salah satu resolusi tahun ini (iya, saya paham betul ini sudah hampir 6 bulan berlalu dari awal tahun ini) adalah kembali untuk secara rutin mengeluarkan tulisan di blog. Terima kasih untuk kedua sahabat saya Septia Herdiani dan Balgis Alkaff yang pada akhirnya sekitar 2 bulan yang lalu mengajak saya untuk mengikuti tantangan mengeluarkan 30 tulisan (idealnya selama 1 bulan, setiap hari nya satu, tapi mari kita realistis….atau pesimis he he he).

Oke! Sebagai permulaan kembalinya saya ke dunia blogging, di postingan pertama saya tahun ini saya akan berbagi mengenai perjalanan pertama saya ke Manila sekitar 3 bulan yang lalu (tulisan ringan saja ya). Saya ditugaskan kantor untuk pergi ke Manila untuk belajar lebih dalam tentang proses disana untuk diterapkan di Indonesia. Saya hanya berada di Manila selama 6 hari (12-17 Maret 2017), mendarat di Manila minggu sore dan kembali ke Jakarta Jumat siang. Pesawat yang saya gunakan saat itu adalah Singapore Airlines, dan ini juga merupakan pengalaman pertama saya menaiki pesawat yang konon katanya salah satu pesawat yang menyediakan pelayanan terbaik diantara seluruh maskapai dunia. Setelah tiket keberangkatan saya di konfirmasi oleh pihak Singapore Airlines, saya memutuskan untuk mendaftar sebagai anggota Frequent Flyer dari Singapore Airlines atau lebih dikenal dengan keanggotaan KrisFlyer. Sehari sebelum keberangkatan, saya melakukan check in online dan memasukkan nomor keanggotaan saya (yang telah didapatkan sebelumnya melalui pendaftaran online yang tidak dipungut biaya, untuk kartu keanggotaan sendiri akan otomatis dicetak dan dikirimkan ke anggota setelah melakukan penerbangan perdana dengan Singapore Airlines). Untuk penerbangan Jakarta-Singapura, berhubung ini merupakan penerbangan dengan durasi yang singkat, saya memilih duduk di dekat jendela, tetapi untuk Singapura-Manila (kurang lebih 3,5 jam), saya memilih tempat duduk yang dekat koridor agar lebih mudah apabila sewaktu-waktu harus ke kamar mandi.

20170312_065800-1

Gambar 1. Boarding pass saya

Di hari keberangkatan saya, seperti prosedur pada umumnya, walaupun sudah check in online karena saya memiliki barang yang harus diletakkan di bagasi, saya tetap harus mengunjungi counter check in di Bandara dan setelah proses verifikasi penumpang dan administrasi bagasi selesai, saya menunggu panggilan boarding sembari sarapan di Citibank lounge bandara. Proses boarding sendiri tepat waktu (sangat tepat waktu malahan) dan pesawat berangkat sedikit lebih cepat dari jadwal. Untuk penerbangan Jakarta-Singapura sendiri penumpang akan mendapatkan makanan (makanan berat, bukan hanya snack) yang menurut saya rasanya sangat enak (setidaknya menurut selera saya). Saya mendarat di Singapura dan langsung mengejar pesawat berikutnya yang bertujuan ke Manila.

Pesawat berikutnya ke Manila juga sangat tepat waktu dan saya mendarat di Manila lebih cepat dari prediksi dan ini yang paling membuat saya terpukau ; setelah saya mendarat dan sampai di terminal kedatangan, hanya butuh sekitar 15 menit saja untuk saya menemukan bagasi saya di conveyor belt Singapore Airlines, padahal saya hanya penumpang kelas ekonomi. Saya benar-benar kagum karena ketepatan waktu maskapai ini luar biasa, dan segala sesuatunya sangat teratur (mengingat apa yang saya alami dengan banyak maskapai lokal Indonesia). Untuk keberangkatan dari bandara Ninoy Aquino ke hotel saya telah lebih dahulu memesan mobil dari hotel yang akan saya tinggali (sebenarnya saya juga bisa menggunakan taksi, tapi berdasarkan pencarian informasi di search engine konon katanya supir taksi di Manila tidak terlalu ramah pada turis dan banyak juga turis yang berpengalaman diberikan harga yang ‘luar biasa’).

Sampai di hotel, proses check in nya juga tidak berbelit-belit, seperti prosedur pada umumnya, verifikasi identitas, dan peletakan deposit sebagai jaminan yang akan dikembalikan ketika check out nanti. Hotel yang saya tempati saat itu adalah Hotel Richmonde Eastwood, dan komentar concierge nya ketika mengantarkan barang-barang saya ke kamar adalah “You don’t look like foreigner, I thought you are a local citizen” bukan pertama kalinya saya menerima komentar ini, tapi sampai sekarang saya juga masih heran apa yang membuat orang bilang saya seperti penduduk lokal Filipina.20170312_171949

Gambar 2. Kamar hotel saya di Richmonde Eastwood

Setelah seluruh barang-barang saya beres dan saya sudah membersihkan diri, saya ‘keluyuran’ di Eastwood Mall, sebuah pusat perbelanjaan yang sangat dekat dengan hotel tempat saya tinggal, bahkan di lantai 2 nya terhubung dengan hotel saya. Saya makan malam disana, dimana setelah perjalanan jauh Jakarta-Manila, restoran yang saya pilih untuk makan malam saat itu adalah……………………McDonalds. Anyway perjalanan saya ke Manila sangat menyenangkan, hotel yang saya tempati juga menyediakan makanan dan pelayanan yang sangat baik, tapi berhubung ini untuk kepentingan pekerjaan, selama kurang lebih 1 minggu saya hanya ke kantor dan pulangnya hanya ada waktu untuk mengekspolorasi mall saja, jadi tidak ada tempat wisata yang saya kunjungi.

Gambar 3 dan 4. Eastwood Mall dan saya di depan Eastwood Mall

Keadaan Kota Manila sendiri tidak terlalu berbeda dengan Jakarta, tapi menurut saya infrastruktur dan transportasinya lebih tertata, namun kemacetan dan kepadatan kendaraannya hampir sama dengan Jakarta. Untuk makanan sendiri saya tidak terlalu banyak mengeksplorasi makanan lokal, berhubung di Manila banyak sekali sajian/makanan/menu yang mengandung babi, karena ini pertama kalinya saya di kota ini saya lebih memilih untuk play safe dengan makanan-makanan restoran barat atau asia yang menyajikan menu non-babi.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Ley