Sport Stuff Episode 2

Okay! Kemaren saya udah share tentang deodorant & sepatu yang saya pakai buat olahraga (terutama atletik). Sekarang saya mau share 2 barang yang saya punya, beda tapi 1 jenis dan fungsinya hampir sama. Yaitu Supporter!

Nope bukan supporter penonton tapi Body Support untuk di beberapa anggota tubuh. Karena beberapa tahun ini olahraga rutin saya adalah atletik, jadi saya butuh beberapa barang semacam ini. Kenapa? Karena atletik (terutama lari dengan berbagai jarak) adalah olahraga paling murah tapi bila dilakukan dengan intensitas tertentu bisa memicu cedera! Jadi ini 2 supporter yang saya punya. Merknya LP, harganya gak terlalu mahal, biasanya antara 50-100 ribu tergantung jenisnya.

Yang panjang dan bisa dililit kayak perban ini namanya Knee Wrap, enak make ini, bisa dililitin di lutut untuk meminimalisir pergeseran akibat goncangan yang dibuat oleh kaki waktu ber atletik ria. Jadi fungsi knee wrap itu buat meminimalisir efek buruk kompresi pada tulang lutut.

Knee Wrap

Bentuk Knee Wrap yang saya pakai

Naa, selain Knee Wrap ada 1 lagi yang saya punya, yang fungsinya hampir sama tapi beda jenis. Yaitu Knee Support yang kayak gambar dibawah ini.

Knee Supporter

Jenis Knee Supporter yang saya punya

Na, kalo knee support dia lebih simple cara makenya, tinggal dimasukin aja, kalo Knee Wrap kan harus dililit. Nah ini didesain buat ngikutin kontur lutut kita, dan dengan kompresi yang rendah terhadap lutut, jadi support ke persendian nya oke. Saya mulai pake Knee Support itu pas SMA, pas lulus dan masuk ITB, awalnya lupa untuk make ini, tapi kesini-sini nya saya makin rutin beratletik ria, jadi mulai pake lagi. Knee wrap yang saya pake sekarang bahannya 70% nylon, sisanya spandex, makanya bisa melekat sesuai bentuk lutut. Komposisi yang menurut saya lumayan enak, karena gak terlalu ngepress dan halus karena nylonnya. 🙂

Kalo Knee Wrap yang tadi, itu saya belajar makenya pas tingkat 3 karena gak bisa dililit dengan sembarangan, karena salah-salah bisa bikin sendi lututnya malah terkompresi lebih pas lari. Ini semua memang bukan hal yang wajib dipunya setiap orang, tapi karena intensitas olahraga saya cukup tinggi, saya juga harus menaruh investasi lebih di setiap olahraga yang saya lakuin terutama untuk mencegah dan meminimalisir resiko cedera. Gak bisa berharap olahraga dengan semurah-murahnya berharap dapat bonusnya (misalnya : berat badan turun, seger) dengan mengabaikan resiko cederanya.

Itu dulu ya teman-teman! Sampai jumpa di sharing berikutnya! Jangan bosen haha 🙂

Renungan Pagi

“Neraka yang harus dihadapi setelah kita mati, yang dikisahkan oleh para teolog, tidak lebih buruk daripada neraka yang kita ciptakan untuk diri kita sendiri di dalam dunia ini akibat terus mendandani karakter kita dengan cara yang salah” – William James

Mari dandani diri kita dengan karakter menyenangkan, sehingga hati ini pun senang dengan diri sendiri, bagaimana membuat orang lain untuk menyukai kita apabila kita bahkan tidak bangga dan senang pada diri kita sendiri pada saat kita sendirian 🙂 Kalo bahkan sedih atau muak dengan diri sendiri, orang lain tidak akan pernah menyukai kita. Sisi positifnya adalah usaha yang anda lakukan untuk membuat orang lain menyukai anda, baik membantu mereka, membuat mereka tersenyum atau bentukan usaha apapun lainnya, dapat membantu kita untuk membangun rasa senang pada diri kita sendiri. 

Semoga kita terbangun di setiap pagi, dengan rasa senang pada diri sendiri tanpa ada penyesalan akan apapun yang kita punya. Semoga kita berjalan dengan semangat untuk terus memperbaiki diri, dan semangat untuk membahagiakan sebanyak mungkin orang, tidak hanya agar mereka menyenangi kita tetapi untuk kesehatan jiwa kita sendiri, karena sehat itu bukan sekedar “tidak sakit”. 

Hanya renungan pagi saya 

Sport Stuff

Tags

, , ,

I love branded sport stuff. Karena olahraga itu buat bikin sehat, semua sport equipment saya gak sembarangan. Kalo branded ya itu bonusnya punya pride, tapi di sport equipment, merk itu sebanding dengan kualitas. Itu juga bekas didikan SMA, guru olahraga saya marah kalo olahraga pake sepatu warrior misalnya, pasti dihukum kalo gak make sepatu khusus olahraga. Dan akhirnya kebawa sampe sekarang. Dan selalu diajarin buat nyari sepatu yang bener, misalnya dulu karena track lari di SMA saya wuih luar biasa gak datar, sepatu-sepatu yang merknya T*mkins, pasti akan rusak dalam beberapa bulan.

Di postingan saya yang sebelumnya sudah saya perkenalkan dengan sepatu khusus lari Diadora saya. Itu memang gak semahal rebook sih haha tapi Alhamdulillah spesial didesain untuk pelari 🙂

Barang berikutnya yang saya akan perkenalkan adalah Deodorant saya! Haha orang yang suka olahraga plus hiperaktif kayak saya butuh deodorant khusus *najees, jadi biasanya saya pakai Adidas. Karena selain saya suka semboyannya “Developed With Athletes” memang enak dan ditujukan buat orang-orang yang berkecimpung di bidang olahraga.

My Deodorant

Mencoba Deep Energy setelah selama ini make yang Ice Dive

Yang saya pegang ini wanginya tipe “Deep Energy” wanginya lebih tajem dari yang saya biasa pake yaitu yang biru “Ice Dive” Wanginya memang lebih sreg yang “Ice Dive” tapi karena “Deep Energy” lebih tajem jadi baunya gak cepet ilang.

Milih deodorant jadi penting supaya gak bau badan dan kerasa tetep seger. Deodorant sama parfum kan jelas-jelas beda, jadi bedakan sesuai fungsinya 🙂 Mungkin ada sebagian orang yang ngerasa (terutama wanita) kalo make Adidas Stuff itu memang berbau2 maskulin. Memang sejauh ini deodorant saya ini terkesan maskulin baunya, tapi gak masalah menurut saya karena saya lebih fokus sama fungsinya. Di dalam deodorant biasanya ada alkohol yang kalau di spray ke ketiak akan mengaktifkan zat anti keringat. Bukan berarti gak akan keringetan sama sekali lho ya. Tapi cuma mereduksi aja.

Buat teman-teman yang kulitnya sensitif mungkin hindari jenis yang saya pake (tipe spray) lebih bagus buat make yang roll-on alias yang dioles. Sementara buat yang make spray, jangan lupa nyemprotnya dari jarak 15cm-20cm. Selain karena itu jarak paling efektif, itu juga akan mengurangi efek buruk dari deo spray.

Okay, jadi saya udah sharing 2 sport equipment saya yang saya pakai selama ini, tunggu sharing-sharing berikutnya ya!

BAGI

Bagi. Share. Give. 


Sebuah kata yang bisa digunakan untuk perlakuan uang, barang, maupun hal-hal yang tidak konkret seperti pengalaman, kasih sayang, perhatian, dan sebagainya. 

Hanya sebuah pengalaman pribadi yang ingin saya bagi, tentunya tentang berbagi. Konsep bersedekah melancarkan rezeki sudah sangat familier dimana-mana, tetapi saya baru mempraktekkannya dengan rutin dan terencana 6 bulan terakhir. 

Segala sesuatu memang membutuhkan momentum. Karena suatu momentum pula saya memulai semua hal ini. 

Dulu sekali, ketika saya disertifikasi untuk melakukan treatment pada orang-orang yang merasakan sakit baik fisik maupun mental, saya ditanamkan sekali untuk melakukan hal itu. Bahkan saya ditawarkan untuk langsung memotong 20% penghasilan (dalam hal ini uang jajan karena saya belum bekerja). Tapi waktu itu saya menolak. Haha. Klasik, saya takut uang jajan saya kurang, apalagi potongannya 20%, jadi bersedekah ya ala kadarnya dan bila mood saja. 

Ke depannya saya memang ingin bersedekah tapi tidak tetap, dan hanya ke tempat-tempat tertentu yang memiliki kotak amal yang terpercaya penyalurannya, saya tidak terlalu suka memberi uang kepada pengemis yang berada di jalanan. Saya lebih suka uang saya masuk dan disalurkan dengan baik oleh penanggung jawab yang bisa dipercaya. 

Sampai suatu saat, saya random dan membuka web Rumah Zakat. Sebuah lembaga yang dari dulu sudah dikenal menyalurkan zakat dan bantuan untuk orang-orang yang kurang mampu, namun tidak pernah saya pergunakan sebagai media. Mencatat nomor rekening, dan seingat saya sedekah perdana saya melalui lembaga ini dilakukan via transfer sebesar 50 ribu rupiah. 

Saya tidak terlalu merasakan ada perubahan yang luar biasa, tetapi jelas, setiap selesai melakukan transfer rasanya hati lega, senang dan riang, dan bangga pada diri sendiri. Periode sedekah berikutnya, saya menyumbangkan 3x lipat dari sedekah perdana saya. Dan memang sejak saat itu saya merasakan beberapa perubahan, entah orang tua yang tiba-tiba lebih sering menambah jumlah uang saku saya padahal saya tidak dalam keadaan meminta ataupun kekurangan, ataupun rezeki dalam bentuk lain misalnya : makan gratis, traktiran dan lain-lainnya

Suatu saat, saya ingin menyumbangkan yang lebih besar lagi, entah kenapa ketika saya berada di depan ATM untuk melakukan transfer rutin, saya memasukkan angka 500 ribu. Sebuah angka yang menurut saya ajaib saya bisa merelakannya, mengingat itu cukup besar porsinya dari uang saku saya, dan bila ini terjadi pada beberapa tahun lalu sepertinya saya tidak akan sanggup merelakannya, haha tetapi semua pelajaran hidup yang terjadi selama hampir 4 tahun saya kuliah di ITB sepertinya membuat saya banyak belajar dalam melepaskan sesuatu. 

Dan balasannya, tidak perlu menunggu terlalu lama. Beberapa hari kemudian papa saya menelepon, berkata bahwa telah mengirimkan saya uang sebesar 10x lipat sedekah saya tadi dengan alasan untuk membantu berbagai keperluan saya dalam melaksanakan Tugas Akhir. Terutama sejak saat inilah, saya bertekad, saya harus melakukan yang lebih baik lagi, merelakan lebih banyak lagi dan membantu lebih banyak orang lagi. Sejak saat itu, saya rutin menyisihkan penghasilan (lagi-lagi dalam hal ini uang jajan karena saya belum bekerja) saya sebesar sekitar 20-25% untuk zakat profesi dan sedekah. 

Dan beberapa hari yang lalu, saya juga sudah memotong uang saku saya untuk disumbangkan seperti biasa, dan lagi balasannya tidak perlu menunggu lama. Tiba-tiba hari ini, ayah saya datang dari Jakarta membawakan Pizza 1 loyang dan memberikan saya uang saku tambahan yang besarnya hampir sama dengan uang yang saya keluarkan untuk disumbangkan. 

6 bulan ini, kebutuhan saya sebagai mahasiswa tingkat 4 cukup banyak dan cukup besar, terutama dana yang sangat banyak terkuras untuk mencetak laporan entah KP, TA yang beratus-ratus halaman dan hal-hal lainnya, dan saya juga wanita, walaupun tidak sering tapi saya berbelanja dan tipe orang yang sering makan banyak, tetapi toh saya tidak pernah kehabisan uang. Bahkan, saya jarang merasa kesusahan ketika akhir bulan dimana banyak orang yang mengeluh karena uang saku belum dikirim. 

Dan ketika saya membuat tulisan ini, saya sedang tersenyum sambil berkata dalam hati “Pikiran anda sempit, bila anda berpikir bahwa dunia ini seperti sepotong kue yang akan habis bila dibagi” Saya rasa kisah inspiratif yang berasal dari kerelaan untuk berbagi sudah banyak beredar, dan banyak pula yang terjadi pada orang-orang hebat dan berpengaruh di dunia ini. Jadi, masihkah anda takut dan berhitung untuk berbagi? 

Biografi Singkat

Ini saya tuliskan ketika mengambil mata kuliah jurnalisme untuk keperluan mengirimkan tulisan ke jurnal sosial teknologi. Semoga bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan referensi penyusunan biografi singkat. 

RIWAYAT SINGKAT PENULIS

Image

 

Levina Lailani Suprapto, atau wanita yang akrab disapa dengan panggilan “Ley” ini dilahirkan di Kota Medan, tanggal 29 Mei 1992. Ia menjalani 12 tahun awal kehidupannya di 2 kota yang terletak di Pulau Sumatera yaitu Lhokseumawe dan Medan. Di usianya yang ke 13 ia dikirim oleh orang tuanya untuk menempuh pendidikan di sebuah sekolah semi-militer di Bandung yaitu Sekolah Menengah Atas Terpadu Krida Nusantara. Saat riwayat singkat ini disusun, ia sedang menjalani semester ke-8 nya di Program Studi Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung. Dibesarkan oleh orang tua yang selalu mendukung dan memfasilitasi hobi membacanya, membuat kehausannya akan membaca yang selalu dipenuhi bertransformasi menjadi inginnya ia menjadi seorang penulis dan tertarik dengan berbagai hal yang berkaitan dengan media.

Walaupun senang menulis, ia bukan termasuk orang yang berdisiplin untuk memproduksi suatu tulisan secara rutin. Untuk mendisiplinkan dirinya, ia mencoba untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dapat ia ikuti untuk melatih keterampilannya serta meningkatkan kapabilitas dan wawasannya mengenai cara dan etika menulis yang baik. Terpilih untuk bergabung di KOMPAS Muda Batch 4 dari ribuan orang yang mengajukan diri membuat ia mendapatkan pengalaman yang tidak sedikit dalam mempelajari pola pikir media, ilmu jurnalistik, analisis berbagai bentuk tulisan dan sebagian kehidupan kerja didalamnya. Walaupun tidak bercita-cita sebagai seorang wartawan, namun ia berharap agar menjadi seorang yang disiplin dalam memproduksi tulisan-tulisan yang orisinil dari sudut pandang yang jarang digunakan oleh orang lain seperti wartawan idolanya Wisnu Nugroho yang rajin menuangkan catatan hariannya akan hal-hal “tidak penting” yang ia soroti terutama ketika bertugas di Istana Kepresidenan Jakarta saat periode pertama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 

Menggapai Sinergi Manusia dan Teknologi

 Judul buku                  : Teknologi dan Masyarakat

Pengarang                   : Rahardi Ramelan

Penerbit                       : CV Lubuk Agung

Kota terbit                   : Jakarta

Tampilan Cover buku dengan foto Rahardi Ramelan pada sampulnya

Teknologi dan manusia adalah 2 hal yang tak dapat dilepaskan satu sama lain. Hal inilah yang menyebabkan pembahasan akan kedua hal ini selalu menarik seperti buku yang bertajuk “Teknologi dan Masyarakat” yang akan dibahas pada tulisan ini. Buku dengan foto sosok Rahardi Ramelan yang merupakan sang pengarang pada sampulnya terdiri dari 512 halaman isi yang meliputi 7 BAB. Pada BAB I yang merupakan bagian pendahuluan, pembaca mendapatkan introduksi singkat mengenai perubahan dan perkembangan bangsa dan kebudayaan yang terjadi di bumi ini. Secara bertahap, introduksi yang diberikan mengerucut dari pembahasan mengenai bangsa-bangsa yang ada di seluruh dunia menjadi perkembangan budaya tanah air kita beserta efek yang ditimbulkannya dari transformasi budaya yang terjadi. Setelah introduksi tersebut, pembaca dibawa menuju BAB berikutnya yang berjudul “Industrialisasi, Teknologi dan Budaya”. Ada 2 hal yang sangat menarik pada bagian ini yaitu diberikannya contoh kasus nyata yang membahas mengenai kearifan lokal dan modal sosial serta disertakannya teks sambutan Rahardi Ramelan yang menggunakan Bahasa Inggris pada peringatan ke 150 tahun perusahaan Siemens dari Jerman yang bertajuk Innovation, Science and Technology, and Culture.  “Globalisasi dan Masyarakat” adalah judul BAB berikutnya yang menyambut pembaca. Tergambar dari judul BAB, pada bagian ini dibahas globalisasi beserta tantangannya di masa depan seperti kompetisi global. Apabila pembaca merupakan kalangan civitas akademika, bagian ini mungkin merupakan bagian paling menarik untuk dibaca karena membahas hak atas kekayaan intelektual dan peran perguruan tinggi, mahasiswa dan alumni dalam era globalisasi. Terdapat pula penjabaran beberapa isu utama dalam manajemen perguruan tinggi Indonesia. Hal yang unik pada bagian ini adalah terdapatnya pembahasan khusus mengenai peran wanita dalam pembangunan menghadapi era globalisasi. “Teknologi dan Kemandirian” merupakan BAB dengan jumlah halaman terbanyak. Di bagian ini dibahas teknologi sebagai suatu hal yang tidak mungkin lepas dari sumber daya manusia dan salah satu cara untuk mencapai kemandirian suatu bangsa adalah dengan penguasaan teknologi oleh masyarakatnya. Pada bagian ini diberikan beberapa karya tulis original Rahardi Ramelan yang menggunakan Bahasa Inggris. Terdapat pula beberapa  informasi yang disajikan dalam diagram dan tabel untuk memudahkan pembaca mencerna data yang disajikan. Kuantitas halaman yang paling tinggi dari seluruh BAB yang ada dan berbagai sajian data yang diberikan beserta analisisnya membuat BAB ini merupakan bagian yang relatif rumit untuk dicerna. “Industrialisasi Sebagai Pilihan” adalah BAB kelima yang pembaca akan temui. Secara singkat pada bagian ini dijelaskan bahwa hendaknya kita memilih industrialisasi sebagai poros pembangunan nasional. Sebelum sampai ke bagian penutup, 1 BAB terakhir yang dijumpai pembaca adalah “Kreatifitas, Inovasi, dan Profesionalisme” yang secara umum menjelaskan berbagai aspek yang selayaknya berlandaskan budaya inovasi, kaitan inovasi dengan kreatifitas dan pembangunan profesionalisme.

Pengetahuan dan pengalaman penulis akan berbagai hal yang meliputi teknologi dan masyarakat tidak diragukan lagi. Hal ini terlihat dari berbagai tulisan ilmiah karya beliau ataupun teks sambutan asli beliau yang disertakan dalam buku ini. Namun, tidak ditampilkannya terjemahan dari teks asli yang berbahasa Inggris tersebut ditambah dengan penggunaan bahasa yang cenderung sulit untuk dimengerti orang awam membuat buku ini tidak dianjurkan bagi pembaca pemula ataupun pembaca yang tidak berkecimpung di bidang yang bersentuhan langsung dengan teknologi dan industri.  Salah satu kekurangan buku ini adalah monotonnya tampilan halaman demi halaman pada isi dan walaupun ukuran tulisan cukup proporsional untuk dibaca, namun spasi antar baris kurang proporsional sehingga terlihat terlalu rapat dan mengurangi minat untuk membaca. Kekurangan lain dari buku ini adalah terlalu banyaknya pembahasan contoh kasus yang spesifik (misalnya : pembahasan secara mendalam dan agak terlalu berlarut-larut akan suatu jenis industri) sehingga terkadang sulit untuk mengambil kesimpulan.

Kelebihan dari buku ini adalah terbahasnya secara menyeluruh aspek-aspek yang berkaitan dengan proses menggapai sinergi antara masyarakat dan teknologi untuk mencapai kemandirian bangsa karena seperti yang kita ketahui yang selama ini terjadi adalah kita terbelenggu dalam pola pikir ‘kekinian’ sehingga melupakan kearifan lokal ataupun tidak mempertimbangkan kesiapan masyarakat dalam menerima, menjaga dan menggunakan teknologi. Hal inilah yang menyebabkan kuantitas penemuan teknologi yang tinggi tidak secara niscaya mendukung kualitas penyelesaian masalah yang terjadi pada masyarakat. Terdapatnya data dan penyajian informasi dalam bentuk diagram dan tabel juga memperkuat kualitas isi dari buku ini dan membantu para pembaca untuk melakukan proses interpretasi secara pribadi yang dapat dibandingkan dengan analisis dari penulis atau fakta maupun teori lain yang dijabarkan.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk masyarakat yang bersentuhan atau berinteraksi langsung dengan pembentukan maupun penggunaan teknologi dan civitas akademika karena membahas pemikiran-pemikiran teknolog yang selayaknya tidak berpikir secara parsial serta isu dan peranan perguruan tinggi dalam menghadapi era globalisasi. Selain 2 kalangan yang disebutkan diatas, buku ini juga disarankan untuk elemen negara yang tertarik untuk mencapai kemandirian bangsa dengan menggapai sinergi antara teknologi dan masyarakat.

Sebuah Resensi Oleh Levina L Suprapto

Gunung dan Pantai

Halo, hari ini postingan saya mungkin agak berbeda dari biasanya. Tiba-tiba lagi pengen membagi momen-momen kecil yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan mentransformasikannya dalam bentukan tulisan yang seperti karikatur. Jadi ya isi dari momen-momen itu dideskripsikan dan dikomentari sedemikian rupa cuma buat dijadikan bahan tertawaan aja (tapi bukan negatif lho). Iya  mungkin kurang kerjaan, tapi sebenarnya menyenangkan ketika menulis dalam bahasa sehari-hari tanpa mikirin pola kalimat ataupun tata bahasa. Ya, buat have fun aja. Oh iya, untuk orang-orang yang terlibat ini komentar atau deskripsinya gak sepenuhnya benar  dari hati saya ya haha namanya juga karikatur dalam bentuk tulisan jadi jangan dibawa ke hati. Saya just kidding (ala Tukul). Selamat menikmati.

Rabu, 11 April 2012 di R.32 CC Barat. 

Sebuah percakapan terjadi antara 3 orang. Saya perkenalkan terlebih dahulu ya, siapa saja :

Orang pertama : Laksito Hedi (nama yang unik ya dan orangnya punya pikiran yang unik juga, eksis tingkat stroposfer, tapi cungkring badannya,  11 12 sama tiang listrik, atau kalo dibandingin sama penulis mungkin gak jauh beda sama sapu lidi)

Na ini foto si Tito

Ngomong sok asik

Orang kedua : Muhammad Zulfikar (nama yang bagus sekali ya, seperti nama alumni pesantren, tapi perlu diketahui aja  sodara-sodara, sampe sekarang belum jelas apakah kelakuan dalam kehidupan sehari-harinya persis seperti alumni pesantren ataukah jangan-jangan alumni diskotik?! Masih menjadi misteri! Jeng jeng!)

Ni fotonya Zulfikar

Tangan sok asik

Orang ketiga : Levina L Suprapto (nama yang  pasaran, entah udah brapa orang di ITB yang namanya begini. Levina artinya : Cahaya yang sangat terang, tapi ni orang gak ada putih-putihnya sama sekali. Dan panggilannya jadi Leywulong -> mungkin ini pertanda kiamat)

Ley

Baju sok asik

==========================================================================================

Zulfikar : Yok liat Stand Up Comedy yang di Labtek biru, saya belum pernah liat

Laksito : Gak ah, males, jauh kesana (jawaban singkat yang menyatakan sikap yang sudah jelas tak akan bisa diubah oleh pihak manapun)

Levina : Ayo dong tito puhlease (melas, mengasihani diri sendiri dan berharap ada yang kasihan)

Laksito : Ley, antara ke Labtek biru sama ke gerbang depan itu sama aja jaraknya, dan sekarang gw ni lagi laper, jadi mendingan gw ke gerbang depan gak si kalopun pergi, bakal nemu makanan

Levina : (goyah-> BBM (Benar-Benar Murahan) kalo soal perut)

Zulfikar : Pasti kamu antara ke gunung sama ke pantai lebih suka ke pantai (tarakdes! kaget kan? tiba-tiba jadi gunung sama pantai)

Laksito : Hmm, iya sih, emangnya apa hubungannya?

Zulfikar : Kalo ke gunung, kita harus daki dulu baru bisa liat matahari,

Laksito : Lha kalau ke pantai?

Zulfikar : Kalo ke pantai kan naik mobil (Duk Duk Ces! Serasa jomplang)

Levina : Cekikikan (suara yang dikeluarkan seperti setan, ataupun kombinasi antara bebek bengek dengan kuntilanak karena lagi pilek)

Laksito : Ya gak juga lah, ada kok pantai yang harus jalan masuk2 dulu gitu

Zulfikar : Pantai mana?

Laksito : Ada pokoknya

Zulfikar : Berarti belum pernah kan kesana? (intonasi suara lucu campur annoying buat orang yang dituduh)

Laksito : Pernah kok tapi gw gak tau namanya itu apa (intonasi suara ngotot gak mau dituduh)

Ngotot2an berlanjut selama sekitar 30 detik, silahkan di replay di memori masing-masing

Levina : Errrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr

****************************************************************************************************************

Antara gunung dan pantai, saya pernah pergi ke keduanya, tapi….

Ah sudahlah..

Hahahaha

BBM : Benar-Benar Mumet

Menjelang 1 April, jumlah aksi untuk menolak diberlakukannya kenaikan harga BBM meningkat. Beberapa bagian dari masyarakat hanya bisa pasrah dan membicarakannya, beberapa bagian lainnya semakin gencar mengumpulkan massa untuk aksi, sementara beberapa bagian lainnya berharap bahwa ini hanya ‘April Mop’

Bandung, 27 Maret 2012 – “Ini informasi rencana kegiatan demo, dari kepolisian” Begitulah kalimat pembuka suatu Broadcast Message (sebuah fitur untuk mengirim pesan secara massal dalam Blackberry Messenger bagi para pengguna Smartphone jenis ini) yang diterima oleh penulis hari Senin pagi tanggal 26 Maret 2012 lalu dari salah seorang informan yang berkediaman di Jakarta. Di isi Broadcast Message tersebut disebutkan 12 demo yang akan dilakukan pada tanggal 26 Maret 2012. Sebelumnya, informan juga menjelaskan bahwa untuk melakukan demo, para pendemo harus melapor terlebih dahulu kepada polisi sehingga penerima pesan yakin akan kevalidan asal info tersebut. Diberitahukan pula detil info 12 demo yang telah terdaftar akan dilakukan mencakup jam penyelenggaraan demo, lokasi, jumlah partisipan dan nama pimpinan kegiatan demo tersebut.

Dari kedua belas demo yang didaftarkan, beberapa diantaranya telah secara gamblang menyampaikan maksud demo mereka melalui pemberian nama tim yang melakukan demo tersebut. Contohnya : Laskar Rakyat Tolak Kenaikan Harga BBM yang beranggotakan sekitar 100 orang dengan lokasi demo di Gedung DPR/MPR RI dan Gerakan Mahasiswa Tolak Kenaikan BBM yang beranggotakan lebih kurang 150 orang dan mendaftarkan beberapa lokasi demo yakni di Kementerian Perekonomian, Pertamina Pusat, Istana Negara, dan Kementerian ESDM. Diperkirakan dari 10 demo lainnya, masih ada demo yang berlandaskan pengambilan sikap atas kenaikan harga BBM walaupun tidak disampaikan secara eksplisit dari nama kelompok mereka, namun hingga berita ini ditulis penulis belum melakukan konfirmasi ulang pada pihak yang mampu memberikan konfirmasi yang valid mengenai isi, maksud dan tujuan dari 10 kelompok lainnya melakukan demo.

Dari nama kelompok demo tersebut dapat disimpulkan bahwa minimal 2 dari 12 demo yang didaftarkan untuk dilakukan Senin kemarin, membawa sikap atas kenaikan harga BBM yang akan berlangsung sejak tanggal 1 April 2012 yang akan datang. Beberapa pertanyaan pasti terlintas di benak orang-orang yang mengamati, atau bahkan hanya mendengar isu ini. Ada orang yang bertanya-tanya mengapa BBM naik? Di sisi lainnya ada pula orang yang mempertanyakan mengapa subsidi BBM tidak dipertahankan lagi? Bagaimana nasib buruh yang telah berjuang susah payah untuk kenaikan upahnya akan tetapi semua menjadi terasa sia-sia? Atau mungkin hal-hal yang tidak langsung berhubungan dengan kebijakan tersebut menjadi hal yang dipikirkan oleh masyarakat seperti : Mengapa harus demo?

Hingga tulisan ini dicetak, diperkirakan hari ini jumlah demo akan meningkat beberapa kali lebih banyak, bahkan sejumlah masyarakat yang berbincang pada penulis memprediksi bahwa hari ini akan menjadi hari dengan jumlah demo terbesar selama beberapa tahun terakhir. Bila dihubungkan dengan isu yang membuat jumlah demo meningkat mendekati 1 April, prediksi membengkaknya jumlah demo yang akan dilaksanakan hari ini disebabkan oleh diselenggarakannya rapat paripurna DPR mengenai keputusan akan kenaikan BBM tepat tanggal 27 Maret 2012.

Membahas pro dan kontra kenaikan harga BBM tidak akan ada habisnya. Pihak yang pro dengan kenaikan harga berkeras bahwa ini merupakan hal yang harus dilakukan mengingat naiknya harga minyak dunia dan mempertimbangkan fakta bahwa selama ini subsidi BBM tidak ‘dinikmati‘ oleh masyarakat yang tepat. Sementara di sisi lain, dari beberapa forum sosialisasi massa maupun wawancara pada beberapa narasumber yang dilakukan penulis mengenai kebijakan ini, banyak pihak yang menentang naiknya harga BBM dengan pertimbangan apabila subsidi BBM dialihkan ke Bantuan Langsung Tunai (BLT) pun, BLT hanya diterima oleh anggota masyarakat sangat fakir miskin seperti orang tua, pengemis, yang jumlahnya hanya sekitar 18,5 juta orang sementara kenaikan BBM akan berdampak pada kemiskinan jutaan pekerja informal, buruh upah rendah, prajurit miskin dan bahkan menyebabkan PHK jutaan buruh. “Bila dikatakan subsidi BBM membebani APBN pun, hal sebenarnya yang menjadi beban bagi APBN adalah cicilan hutang, program kerja bodong, korupsi, pemborosan, pembocoran atau kebocoran APBN yang jumlahnya rata-rata 30% setiap tahun“ begitu pernyataan dari Ramadhani Pratama Guna, mahasiswa Teknik Industri ITB angkatan 2007 yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Pergerakan Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB. Pengambilan pendapat dari pihak Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB dilandaskan pada peran kemahasiswaan ITB sebelumnya di Badan Eksekutif Mahasiswa-Seluruh Indonesia (BEM-SI) sebagai koordinator kajian energi nasional. Hingga tulisan ini dicetak, penulis mendapat kabar dari seorang narasumber bahwa pada Musyawarah Nasional BEM-SI terdapat pergantian mekanisme koordinator kajian menjadi penggunaan sistem forum namun notulensi resmi dari Munas BEM-SI tersebut belum berhasil penulis dapatkan untuk melakukan konfirmasi akan kebenaran pernyataan narasumber tersebut.

Manakah yang lebih baik? Tentu pertanyaan itulah yang berkecamuk di benak kita semua, terutama bagian masyarakat yang akan merasakan dampak langsung dari diberlakukannya kebijakan ini. Terlepas dari sikap kita (pro, kontra, maupun netral), hal yang perlu diketahui adalah apakah kita telah mengetahui seluk beluk latar belakang maupun dampak yang akan ditimbulkan baik secara global maupun lokal? Rasanya tidak berlebihan apabila merasa cemas pada pengambilan sikap yang tidak didasari oleh pengetahuan yang memadai. Apakah individu maupun kelompok yang bersatu dan melakukan demo tersebut melakukannya atas dasar pengetahuan yang dalam, sistematis dan menyeluruh ataukah ada beberapa bagian dari mereka yang tergerak atau bergerak karena terprovokasi oleh berbagai sudut pandang pemberitaan yang ditampilkan menjelang disahkannya kebijakan tersebut?

“Yah, saya rasa dalam menyikapi isu ini masih banyak orang yang nggak benar-benar tahu mengapa harus naik atau tidak, misalnya apabila pemberitaan di media banyak menyinggung bahwa harus dinaikkan karena kenaikan harga minyak dunia misalnya, banyak orang yang jadi terpaku untuk menyorot dari isu itu, padahal ada banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk pengambilan kebijakan ini, misalnya dimana posisi dan kemajuan kita ditinjau dari Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2006-2025, atau membenturkan Letter of Intent (LOI) antara Indonesia dengan IMF dengan konstitusi“ begitu ujar Sausan Atika Maesara salah seorang narasumber yang penulis wawancara.

Menyikapi sebuah isu yang berpengaruh pada hajat hidup orang banyak memang membutuhkan banyak pertimbangan pada pengambilan keputusannya. Semoga walaupun masih banyak bagian dari masyarakat yang tidak meninjau berbagai seluruh faktor tersebut ataupun proaktif untuk mengkaji fakta-fakta yang ada, pemimpin-pemimpin kita yang akan mengambil keputusan berlaku sebaliknya. Kita? Masih ada waktu untuk berdoa agar keputusan terbaiklah yang keluar sebagai ‘pemenang‘. 

Oleh : Levina Lailani Suprapto

Tanpa Pengkhianat, Benar ataupun Salah

Berkhianatkah kita bila memilih mengabdi untuk Multinational Company?

Bandung, Maret 2012 – Apa yang anda pikirkan sebagai seorang mahasiswa mendekati waktu kelulusan anda? Atau setidaknya bila waktu lulus anda belum tiba, apa yang anda pikirkan ketika anda merenung tentang apa yang anda akan lakukan setelah pergi dari kampus anda sebagai seorang sarjana?

“Saya ingin bekerja di Oil and Gas Company” begitu ujar salah seorang mahasiswa yang diwawancarai oleh penulis baru-baru ini. Keinginan yang sama juga dijumpai pada beberapa mahasiswa lain yang berbagi mengenai rencana atau keinginannya di masa depan baik melalui mekanisme wawancara yang dilakukan penulis, maupun obrolan biasa yang terjadi sehari-hari. Beberapa alasan yang dikemukakan oleh mahasiswa yang berinteraksi dengan penulis melalui kedua mekanisme diatas mengenai banyaknya mahasiswa yang berkeinginan untuk membangun karir di perusahaan minyak dan gas diantaranya adalah besarnya gaji yang akan didapat, prestise atau gengsi dari perusahaan jenis tersebut, kehidupan kerjanya tidak monoton dan besarnya kesempatan untuk menjelajah berbagai negara di dunia. ‘

Tidak dapat disalahkan tentu munculnya alasan-alasan tersebut dari mulut mahasiswa tersebut. Memang kenyataannya, untuk fresh graduate saja rata-rata perusahaan yang berhubungan dengan minyak dan gas memberikan gaji awal yang cukup besar, bahkan beberapa diantaranya ada yang mencapai 8 digit per bulan (lebih dari 10 juta bila dinyatakan dalam kurs rupiah) dan untuk masalah prestise atau kebanggaan yang didapat, dengan paradigma yang ada di masyarakat sekarang mengenai sejahteranya kehidupan dan jaminan dari orang yang bekerja di Oil and Gas Company atau perusahaan lain yang berkaitan dengannya, tidak perlu dilukiskan lagi betapa bangganya apabila seorang direkrut untuk bergabung di berbagai perusahaan minyak dan gas ataupun tipe perusahaan yang masih berkaitan dengan minyak dan gas seperti beberapa Service Company di dunia.

Bicara masalah mahasiswa tentu kita juga tidak boleh lupa bicara mengenai idealisme mahasiswa. Konon katanya, apabila mahasiswa memilih untuk bekerja di perusahaan multinasional ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa mahasiswa mengingkari idealisme mereka semasa kuliah. Banyaknya perusahaan minyak dan gas ataupun penyedia jasa di bidang terkait yang didominasi oleh perusahaan multinasional tentu membuat hal ini berbenturan dengan idealisme mahasiswa apabila ditinjau dari pandangan pendapat yang disebutkan tadi. Bila dikaitkan dengan pembicaraan mengenai apa yang akan dilakukan setelah lulus, tentu hubungannya adalah dengan pilihan membangun bangsa atau menyelesaikan berbagai permasalahannya dengan bergabung pada berbagai instansi, lembaga atau perusahaan milik negara atau berbagai badan pemerintah.

Mengapa sedikit sekali mahasiswa yang mengambil atau berencana mengambil pilihan tersebut? Tentu bukan tanpa alasan mengapa peminatnya sedikit dan setelah ditilik lebih lanjut dengan mekanisme bincang-bincang ringan ataupun wawancara yang dilakukan oleh penulis, alasan kurang berminatnya banyak mahasiswa bukan sebatas hanya melihat faktor gaji yang akan didapat. Mungkin ada beberapa sudut pandang yang harus kita coba dengarkan dalam menyikapi beberapa gambaran pendapat mahasiswa diatas. Beberapa alasan yang dipaparkan oleh mahasiswa yang tidak berminat bergabung dengan perusahaan milik negara atau berbagai badan pemerintah diantaranya : perusahaan milik negara yang identik dengan birokrasi yang kompleks dan tidak efisien, adanya cerita mengenai terjadinya berbagai persaingan yang tidak sehat didalamnya, diskriminasi, ataupun berbagai tindakan kotor seperti korupsi atau hal lain yang terjadi di dalamnya. Mengapa tidak berusaha memperbaiki? Bukan tidak berusaha, akan tetapi beberapa hal yang telah disebutkan jugalah yang menghambat perbaikannya sehingga belum tentu orang yang memilih untuk bergabung pada badan-badan milik pemerintah diposisikan pada tempat yang mampu membawa perubahan dari problema yang telah mendarah daging tersebut. Sudut pandang lain yang harus kita coba kita pikirkan untuk tidak menjustifikasi orang yang lebih memilih bekerja pada perusahaan multinasional adalah “Bukankah terlibat dengan semua kekotoran itu apalagi apabila kita terbawa arus sehingga menjadi bagian dari kekotoran tersebut merupakan pengkhianatan terbesar pada idealisme?

Mungkin sudut pandang yang muncul dari berbagai pendapat diatas dapat kita jadikan bahan renungan mengenai apakah kita memang berkhianat pada idealisme kita. Tanpa mengambil kesimpulan akan pihak mana yang benar dan yang salah, tanpa mengambil kesimpulan siapakah pengkhianat sebenarnya, apabila kita memang individu yang mencintai bangsanya, kita dapat menentukan cara terbaik yang dapat kita ambil untuk berkontribusi memperbaiki dan membangun bangsa ini.

Ditulis oleh : Levina L Suprapto untuk Tugas Jurnalisme 🙂

Saya Tidak Dilahirkan di PRO/OS/INKM, tetapi di DAT saya lahir (catatan DAT part 3)

Tibalah saatnya hari Hearing Calon Ketua DAT 2011. Calon lainnya adalah Taufik Nurcahyo (GL 08)dan Angga Putra (SF 08). Singkat cerita, dengan sistem musyawarah antar peserta hearing, saya terpilih. Terima kasih untuk yang hadir hearing waktu itu, beberapa diantaranya adalah : Oki (TK 08), Fany (TL 08), Efi (FI 08), Devita (TL 08), Dhani (MS 08), Adit (DKV 07), Anis (FI 08), Maul (IF 08), Ajie (SBM 08), Tezza (IF 08), buat yang lain belum yang saya sebut silahkan katakan ke saya, haha maaf tidak bisa mengingat semuanya.

Terima kasih pula untuk Presiden saya, yang secara langsung memimpin saya menjalani DAT 2011,Herry Dharmawan (PN 06) dan jajarannya yang mengawasi saya Adi Putra (GL 06) dan Ryan Alfian (TM 06) yang dengan keras mengatakan tidak rela DAT jatuh ke tangan ke3 calon ketua tersebut bila visi dan misi hanya dipikirkan dalam 1-2 hari. Saya akhirnya terpilih dan berjanji untuk melunasi hutang saya ke Herry untuk memikirkan DAT dengan super matang, dengan berbagai landasan yang kuat.

Bertemu Zuhdi

Foto sama Zuhdi waktu LPJ Kabinet

Pasca terpilih jadi ketua DAT 2011, banyak orang-orang yang memanggil saya untuk diajak berdiskusi. Salah satu diantaranya adalah Zuhdi (AR 06). Dia memberi saya beberapa pengetahuan tentang kampus & mengajari saya mengenai beberapa hal. 2 hal diantara sangat melekat di pikiran saya hingga sekarang, bahkan saya pegang menjadi salah satu prinsip hidup saya.

  1. Banyak orang yang ingin memegang jabatan tanpa pengalaman yang matang sebelumnya. Entah kenapa saya merasa makin kesini, kualitas pemegang jabatan tidak sebagus angkatan-angkatan sebelumnya. Tidak bermasud mengeneralisir juga ya, ada beberapa orang yang merasa pantas untuk maju (sebagai apapun) padahal pengalamannya masih seumur jagung, dan setelah terpilih pun tidak ada perbaikan yang signifikan (pada dirinya, dan lingkungan sekitarnya). Itu yang Zuhdi minta saya ubah dari penyelenggaraan DAT 2011. Semoga sekarang berubah ya, saya harap orang yang terinfluens DAT 2011 (tidak harus pesertanya) memutuskan untuk tampil/maju atau melakukan apapun telah siap dengan persiapan dan pertimbangan yang matang.
  2. Ketika sudah memegang jabatan, itu sudah bukan waktunya lagi untuk belajar, tetapi itu saatnya pembuktian. Itu melekat hingga sekarang di kepala saya. Saya tidak suka pemimpin/pemegang amanah yang ketika dievaluasi mengatakan bahwa kekurangannya adalah karena dia masih belajar. Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater, lebih baik mundur saja, dan berikan tampuknya pada orang yang paham bahwa ini saatnya membuktikan. Belajar ya ketika anda masih bukan siapa-siapa, silahkan saja salah. Dan kelak, prinsip inilah  yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk mundur ketika ditawari mengisi suatu posisi di kabinet.